ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

Cerita Pembelot Korea Utara, Meyakini Kim Jong Un sebagai Dewa yang Bisa Baca Pikiran

Park sering mendapat kisah bahwa Kim Jong Un dan ayahnya, Kim Jong Il, adalah dewa yang bisa membaca pikiran.

AFP/STR/KCNA MELALUI KNS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara dalam pertemuan Biro Politik Komite Sentral Komite Sentral Partai Buruh Korea (WPK) di Pyongyang. Foto diambil pada Sabtu (11/4/2020) dan dirilis Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). 

TRIBUNPAPUA.COM - Seorang pembelot Korea Utara mengatakan, dia mendapat cerita Kim Jong Un adalah dewa yang bisa membaca pikiran warganya.

Yeonmi Park mengungkapkan kisah itu, di mana juga mengisahkan bagaimana rasanya hidup di negara yang dikenal begitu rahasia itu.

Park, gadis 26 tahun yang kini aktivis HAM di Chicago, menuturkan dia tidak mengenal konsep cinta, atau apa itu persahabatan.

Semuanya adalah "kamerad", di mana mereka begitu membanggakan rezim Korea Utara.

Bahkan orangtuanya sendiri tidak pernah mengungkapkan mereka mencintainya.

Yeonmi Park menerangkan ketika berbicara tentang Korut, negara itu jauh berbeda dengan negara lain yang dianggap tak aman seperti Iran atau Kuba.

50 Warga Dikurung di Mobil Jenazah Berisi Keranda Bekas Pasien Covid-19 karena Tak Pakai Masker

Kepada New York Post pekan lalu, dia mengatakan bahwa masyarakatnya tentu mendapatkan pemahaman bahwa mereka diisolasi atau warga pendatang tidak aman.

"Tetapi Korut seakan-akan adalah kerajaan terpencil. Saat saya kecil, saya tak tahu bahwa saya memuja diktator," kata Park.

Sebagai anak-anak, Park sering mendapat kisah bahwa Kim Jong Un dan ayahnya, Kim Jong Il, adalah dewa yang bisa membaca pikiran.

Propaganda tersebut membuat rakyat negara penganut ideologi Juche itu terlalu takut untuk berbicara, bahkan memikirkan kebrutalan keluarga Kim.

Di sekolah, dia mengklaim mendapatkan pelajaran berhitung menggunakan metrik "Amerika siaan", atau ada sesi yang disebut "sesi kritik".

Di sana, para siswa diajarkan untuk saling menyerang atau menemukan kesalahan teman sekelasnya.

Membuat mereka menjadi saling curiga dan terpecah belah.

"Kami tidak punya teman di Korea Utara. Yang kami punya hanyalah kamerad. Kami tidak mengenal apa itu hubungan pertemanan," ungkap Park.

Park kemudian mengungkapkan bagaimana dia harus makan serangga untuk hidup, dan menyalahkan rezim Kim yang membiarkan rakyatnya kelaparan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved