Jumat, 8 Mei 2026

EKONOMI

2 Juli dalam Catatan Sejarah, Krisis Keuangan Terburuk Landa Asia

Krisis keuangan ini bermula di Thailand, dan dikenal dengan nama krisis tom yum kung di Thailand, bersamaan dengan jatuhnya nilai mata uang baht.

Tayang:
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
EKONOMI - 2 Juli 1997 Silam, Krisis Keuangan Landa Asia, mengakibatkan negara-negara terpuruk termasuk Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara   

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA2 Juli 1997 terjadi krisis keuangan yang menerpa negara-negra di Asia dan menimbulkan kepanikan, bahkan ekonomi dunia hampir runtuh akibat pengaruhnya.

Krisis keuangan ini bermula di Thailand, dan dikenal dengan nama krisis tom yum kung di Thailand, bersamaan dengan jatuhnya nilai mata uang baht.

Setelah itu, pemerintah Thailand terpaksa mengambangkan baht, sebab minimnya valuta asing yang dapat mempertahankan pengaruhnya ke dolar Amerika Serikat.

Baca juga: Naek Tigor Sinaga: Ekonomi Global Alami Pemulihan

Saat itu, Thailand menanggung beban utang luar negeri yang besar, hingga negara ini dapat dinyatakan bangkrut, sebelum nilai mata uangnya jatuh.

Saat krisis ini menyebar, nilai mata uang di sebagian besar Asia Tenggara dan Jepang ikut turun, serta nilai aset lainnya jatuh, dan utang swastanya naik drastis.

Negara-negara di Asia yang mengalami krisis keuangan terparah 2 Juli 1997, ini ialah Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand.

Sementara itu, negara-negara lainnya di Asia yang terdampak ialah Hongkong, Laos, Malaysia, dan Filipina, sebab turunnya nilai mata uang.

Brunei, Cina, Singapura, Taiwan, dan Vietnam tidak kentara dampaknya saat itu, namun sama-sama merasakan turunnya permintaan dan kepercayaan investor di seluruh Asia.

Rasio utang luar negeri terhadap PDB naik dari 100% menjadi 167% di empat negara besar ASEAN pada tahun 1993–96, lalu melonjak hingga 180% pada masa-masa terparah dalam krisis ini.

Baca juga: Cegah Krisis Keuangan di Korea Utara, Kim Jong Un Diduga Kerahkan Hacker untuk Curi Kriptokurensi

Khusus di Korea Selatan, rasionya naik dari 13% menjadi 21%, lalu memuncak di angka 40%.

Untuk kenaikan rasio pembayaran utang ekspor, hanya dialami oleh Thailand dan Korea Selatan.

Meskipun sebagian besar negara di Asia mempunyai kebijakan moneter yang baik, namun Dana Moneter Internasional saat itu sampai turun tangan untuk menstabilkan mata uang Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia.

Upaya menghambat krisis ekonomi global gagal menstabilkan situasi dalam negeri Indonesia.

Hal itu diperparah dengan tekanan massa, yang memprotes kenaikan harga secara tajam akibat devaluasi rupiah.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved