Minggu, 19 April 2026

Penelitian

Balai Arkeologi Papua Temukan Artefak Batu Berbentuk Pipih di Kampung Abar

Pengetahuan tentang kuliner ikan masak duri lunak ternyata sudah dikenal sejak masa prasejarah di kawasan Danau Sentani, Papua

Penulis: Hendrik Rikarsyo Rewapatara | Editor: Maickel Karundeng
Hari Suroto for Tribun-Papua.com
PENELITIAN- Artefak batu berbentuk bundar pipih di Bukit Khulutiyauw, Kampung Abar, Distrik Ebungfauw Kabupaten Jayapura 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hendrik R Rewapatara

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA -Pengetahuan tentang kuliner ikan masak duri lunak ternyata sudah dikenal sejak masa prasejarah di kawasan Danau Sentani, Papua.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto, mengatakan pihaknya menemukan artefak batu berbentuk bundar pipih di Bukit Khulutiyauw, Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura

Menurutnya,Artefak batu ini berdiameter sekitar 10 cm. Bukit Khulutiyauw terletak di tepi Danau Sentani bagian selatan atau sebelah barat Kampung Abar.

Baca juga: Cekcok di Tengah Pesta Miras, Pria Bunuh Teman Tongkrongan di Hotel karena Ejekan Anak Kemaren Sore

"Artefak batu yang ditemukan di Bukit Khulutiyauw pada masa lalu berfungsi untuk memasak presto ikan dalam gerabah," kata Hari Suroto kepada Tribun-Papua.com, Kamis (12/8/2021).

Lanjut dia, artefak batu ini ditemukan bersama pecahan-pecahan gerabah yang banyak dijumpai di hampir seluruh permukaan Bukit Khulutiyauw.

Baca juga: 375 Pelajar Ikuti Vaksinasi Massal Covid-19

Menurut dia, dalam tradisi Sentani dikenal kuliner ikan kuah hitam atau hebehelo.Kuliner hebehelo berupa presto ikan danau dengan wadah gerabah dengan bumbu daun dan batang keladi.

Dia mengatakan,terdapat beberapa jenis keladi di Sentani,hanya keladi jenis bete yang digunakan sebagai bumbu.

"Keladi jenis ini bentuk daun dan batangnya kecil berwarna ungu.Cara memasaknya yaitu batang dan daun keladi diasapkan terlebih dulu di perapian,"katanya.

Baca juga: Beberapa Aturan Baru Memasuki Kawasan Malioboro, Wajib Vaksin hingga Durasi Kunjungan Maksimal 2 Jam

"Sebelumnya, siapkan dulu wadah gerabah yang bagian dalamnya telah ditaruh anyaman bambu sebagai alas,"ujarnya.

Di atas anyaman bambu itu, ditaruh ikan yang sudah dibersihkan. Sebelum dikenal ikan mujair, ikan yang dimasak berupa ikan gabus hitam atau kayou (Eleotrididae Oxyeleotris heterodon) dan ikan gabus merah atau kahe (Eleotrididae Giuris margaritacea). Setelah itu ditambah air secukupnya dan garam.

Baca juga: Beberapa Aturan Baru Memasuki Kawasan Malioboro, Wajib Vaksin hingga Durasi Kunjungan Maksimal 2 Jam

Kuliner ikan kuah hitam atau hebehelo dalam wadah gerabah
Kuliner ikan kuah hitam atau hebehelo dalam wadah gerabah (Hari Suroto for Tribun-Papua.com)

Baru di atasnya ikan tadi, ditaruh batang dan daun keladi kering. Pada permukaan atas bahan makanan tadi ditaruh batu bundar pipih untuk penutup sekaligus sebagai penekan.

Wadah gerabah berisi ikan dipanasi di atas bara api selama sekitar dua jam.

Baca juga: Bali United Segera Umumkan Pemain Anyar Jelang Liga 1, Nama Mantan Pemain Persipura Jayapura Mencuat

Garam dan bumbu batang keladi akan merasuk dalam ikan. Selain itu, ikan akan terasa empuk sampai tulang. Rasanya tentu saja enak.

Penggunaan batang dan daun keladi merupakan bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun di Sentani. Ternyata, batang dan daun keladi ungu mengandung polifenol yang terbukti menurunkan kolesterol.

Baca juga: Pemkot Jayapura Gunakan Kapal Tidar Sebagai Lokasi Isoman Pasien Covid-19

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved