Covid 19
Terkena Badai sitokin Sempat Bikin Deddy Corbuzier Kritis
Deddy Corbuzier mengumumkan terkena covid-19 dan mengalami badai sitokin hingga kritis selama 3 hari
Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: Maickel Karundeng
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Nadila Larajina
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Deddy Corbuzier mengumumkan terkena covid-19 dan mengalami badai sitokin hingga kritis selama 3 hari.
"Saya sakit... Kritis, hampir meninggal karena badai sitokin, lucunya dengan keaaan sudah negatif. Yes it's covid," kata Deddy, dikutip dari Channel Youtube Deddy Corbuzier, Minggu (22/8/2021).
Baca juga: Gubernur Papua Barat Sindir Kepala Daerah Belum Vaksin, Mandacan: Kita sebagai Panutan
Deddy mengatakan, ia terkena badai sitokin dengan keadaan paru-paru rusak 60 persen dalam dua hari.
"Tanpa gejala apapun tiba-tiba saya masuk ke dalam badai sitokin dengan keadaan paru-paru rusak 60% dalam dua hari," jelas Deddy.
Baca juga: Stafsus Presiden RI, Billy Mambrasar Ajak BP dan Genting Oil ke Rumah Negara Teluk Bintuni
Ia mengatakan, bisa selamat dari kerusakan paru-paru yang parah karena pola hidupnya yang sehat.
"Hebatnya oksigen darah saya tidak turun bahkan diam di 97-99 karena pola hidup sehat saya selama ini,"ujarnya.
Lalu apa itu badai sitokin yang disebut-sebut sebagai penyebab kematian banyak orang dimasa pandemi Covid-19?
Dikuti dari Kompastv, menurut penilitian dari Mukesh Kumar, seorang ahli virologi dan imunologi, Georgia University, badai sitokin dipicu oleh virus yang menggandakan diri dengan sangat cepat setelah menginfeksi sel.
Baca juga: Alasan Remaja 18 Tahun Bunuh Pacar yang Hamil 8 Bulan, Ngaku Tak Direstui Orangtua: Umur Beda Jauh
Saat itu, tubuh langsung mengirimkan sinyal bahaya kepada sel. Sel yang merasakan bahaya langsung merespons dengan membunuh dirinya sendiri.
Menurut Penanggungjawab Logistik dan Perbekalan Farmasi RSUP Dr. Kariadi Semarang, Mahirsyah Wellyan TWH., S.Si., Apt., Msc., badai sitokin atau cytokine storm adalah reaksi berlebihan sel darah putih yang mempertahankan sistem kekebalan tubuh dari virus Covid-19.
Saat itu, sel darah putih akan menghasilkan sitokin, protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh.
Pada pasien Covid-19, sitokin lantas bergerak ke paru-paru untuk melindungi dari serangan SARS-CoV-2.
Baca juga: Misi Khusus yang Harus Dijalankan Yunus Wonda dan Kenius Kogoya di Jakarta
Pada normalnya, sitokin hanya berfungsi akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi, namun pada badai sitokin, sel terus mengirimkan sinyal sehingga bergerak di luar kendali.
Akibatnya, paru-paru mengalami peradangan yang hebat sehingga akan merusak fungsi paru-paru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/deddy-orbuzier-1.jpg)