Breaking News:

Sosok

Methodius Kossay: Menulis Buku Tidaklah Mudah

"Mungkin sudah ada ide dan gagasan-gagasan yang telah terpikirkan, namun itu semua butuh waktu," kata Methodius Kossay.

Tribun-Papua.com/Tirza Bonyadone
TANGKAPAN LAYAR - Methodius Kossay, penulis dan motivator muda asal Wamena, Papua. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Tirza Bonyadone

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Hampir sebagian besar penulis entah itu naskah hingga penulisan buku, tentu memiliki kendala tersendiri misalnya ide, inspirasi atau motivasi pun harus dimiliki.

Hal ini pun dirasakan oleh satu di antara penulis dan motivator muda asal Wamena, Papua Methodius Kossay yang saat ini menerbitkan buku kedua berjudul Menangkal Paradigma Negatif Dengan Prestasi.

Baca juga: Atlet Papua Diganjar Bonus 1 M, Atlet Jambi Dijanji Tembus ASN

Ia mengaku, membutuhkan waktu selama dua tahun untuk menyelesaikan buku tersebut.

"Mungkin sudah ada ide dan gagasan-gagasan yang telah terpikirkan, namun itu semua butuh waktu dan proses menuangkannya menjadi buku tra gampang," kata Methodius kepada Tribun-Papua.com, Sabtu (11/9/2021).

Selain itu, kesibukan di luar penulisan seperti kegiatan kampus, tugas perkuliahan dan pekerjaan terkadang menjadi hambatan penyelesaian.

"Untuk itu penting bagi kita mengetahui dan memahami mana prioritas dan manajemen waktu ya. Saya harus tahu waktu bekerja, kuliah serta menulis harus sesuai," pungkasnya.

Metho menambahkan, melakukan sesuatu jangan sampai merasa terbebani.

"Saya harapkan anak muda masa kini bisa mengatur waktu, terutama pada jam belajar dan pengerjaan tugas. Mereka harus paham apa yang menjadi prioritas," tegasnya.

Baca juga: Refleksi HUT Ke-39 PGM, Bernard Erari: Menjangkau Anak Muda Papua Melalui Pelayanan Gereja

Dari informasi yang diperoleh Tribun-Papua.com, terkait dengan bagaimana pendidikannya di baku sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi.

Hingga tips-tips simpel bagi anak muda, yang saat ini mengalami permasalahan dalam perkuliahan.

Tidak hanya itu, ternyata di dalam buku tersebut ia juga mencantumkan kisah kesuksesannya sampai ditahap ini.

"Orangtua saya bukan orang berada, mereka hanya petani di kampung saat saya mulai merantau. Kakak saya yang biasa membiayai saya, namun ya itu saya juga bekerja jadi pemulung dan pengangkat barang," ungkapnya.

"Tahu dan tempe itu makan sehari-hari saya, penghasilan Rp. 7.500 saya usahakan cukup, bisa baca lebih lanjut di buku," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved