Rabu, 13 Mei 2026

KKB Papua

Tenaga Kesehatan Jadi Korban Kekerasan KKB, Aktivis Papua Pertanyakan Peran Pegiat HAM

Guru dan Tenaga kesehatan menjadi korban kelompok Sparatis, Para pegiat HAM di Papua Tuli dan Buta akan persoalan itu, dimana Peran Pegat HAM di Papua

Tayang:
Editor: Ri
Tribun-Papua.com/Roy Ratumakin
Para tenaga kesehatan (nakes) yang berhasil di evakuasi dari Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang ke Jayapura, Jumat (17/9/2021). Para aktivis di Papua menanyakan peran Pegiat HAM. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Sebanyak ratusan tenaga kesehatan melakukan aksi unjuk rasa dan longmarch sebagai bentuk protes atas kekerasan terhadap rekan mereka yang menjadi korban kebiadaban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Diketahui bahwa pada tanggal 13 September 2021, KKB atau TPNPB-OPM melakukan penyerangan terhadap dokter dan perawat di Puskesmas Kiwirok Kab. Pegunungan Bintang.

Atas peristiwa seorang tenaga Kesehatan, Gabriella Meilani menjadi korban kebiadaban  dan meninggal dunia dan ditemukan di dasar jurang dengan kondisi yang mengenaskan.

Baca juga: Hendak Evakuasi Jazad Nakes Korban KKB, Tim Evakusi Ditembaki Kelompok Organisasi Papua Merdeka

"Tenaga kesehatan hadir di masyarakat itu bukan untuk membunuh, mereka bahkan jauh-jauh bertugas sampai ke pedalaman Papua untuk memberikan pelayanan kesehatan tanpa melihat latar belakang mereka, bahkan dari kelompok yang bersebrangan dengan NKRI,” ucap Januar Ary Wardhana, salah satu Mahasiwa Fakultas Hukum ternama di Indonesia.

Sebagai bentuk protes dan demi keamanan terhadap aksi kekerasan yang kerap dilakukan KKB, sementara waktu sebaiknya seluruh nakes dari sejumlah Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya yang berada di distrik-distrik ditarik.

"Seluruh tenaga medis di distrik-distrik sebaiknya ditarik semua, mereka mengungkapkan rasa kesal dan amarahnya terkait peristiwa penyerangan KKB di Kiwirok,” bebernya.

Baca juga: Mau Tahu KNPB Aktor Penyerangan dan Pembunuhan 2 Tenaga Kesehatan, Inilah Sejarahnya

"Tidak ada aksi kekerasan yang bisa dibenarkan. KKB atau TPNPB-OPM tidak punya alasan logis untuk membenarkan aksi biadabnya, itu sangat-sangat tidak terpuji, inilah sesungguhnya aksi melanggar HAM," ucapnya.

Sakit hati jika melihat setiap aksi yang menyinggung eksistensi KKB, dimana masih ada sejumlah kelompok yang seolah membela dan membenarkan perilaku biadabnya.

"Ada kelompok-kelompok yang masih membenarkan aksi biadab, apalagi mereka itu orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Seperti para pegiat HAM,” ujarnya.

Baca juga: Komjen Paulus Waterpauw Geram Aksi KKB di Pegunungan Bintang, Ini Katanya.

“Hingga saat ini belum berani mengatakan kalau KKB atau TPNPB-OPM itu adalah pelaku pelanggaran HAM, padahal kelompok ini sudah sering melakukan tindaan kekerasan terhadap warga sipil dan apparat keamanan," tambahnya.

Ada kecenderungan para pegiat HAM yang masih subjektif dalam memandang situasi di Papua. Kita menyadari ada kepentingan dari sejumlah pegiat HAM yang seolah mendukung KKB dalam upaya perlawanan terhadap negara.

Baca juga: Paulus Waterpauw Minta Kapolda Papua dan Jajaran Buru KKB Hidup atau Mati

"Yang namanya pegiat HAM itu sesungguhnya mendukung setiap orang (sebagai korban) tanpa membedakan SARA, tapi dengan kejadian sekarang ini, mereka hanya membisu. Berbeda jika situasinya terbalik, mereka seperti “anjing kelaparan” yang sangat beringas mencoba menyalahkan pihak lain. Pandangan saya, pegiat HAM seperti itu (mereka) punya kepentingan sendiri, bisa saja mereka ini pendukung gerakan separatisme di Papua," tegasnya.

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved