Breaking News:

Konflik Yahukimo Pecah karena Hoaks, Sosiolog Analisa Kabar Bohong Mudah Dipercaya

Hoaks penyebab kematian mantan Bupati Yahukimo Abock Busup memicu kericuhan di Yahukimo, Papua, pada Minggu (3/10/2021) lalu.

ISTIMEWA
YAHUKIMO MEMBARA - Mantan Bupati Yahukimo, Abock Busup dikabarkan meninggal dunia di Jakarta, Minggu (3/10/2021) pagi. Sejumlah warga di Kabupaten Yahukimo mulai membakar sejumlah rumah dan melempari toko. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Hoaks penyebab kematian mantan Bupati Yahukimo Abock Busup memicu kericuhan di Yahukimo, Papua, pada Minggu (3/10/2021) lalu.

Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Ida Ruwaida mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan informasi hoaks mudah dipercaya oleh masyarakat.

Termasuk faktor yaitu tingginya social distrust atau ketidakpercayaan sosial dan lemahnya sikap kritis masyarakat terhadap informasi dan sumbernya.

Baca juga: Remaja 14 Tahun yang Dibunuh Pakai Jamu Beracun Ternyata Tak Hamil, Kekasihnya Tertipu

Baca juga: Balas Dendam, Fotografer Ini Hapus Foto Pernikahan Temannya karena Kesal Tak Boleh Istirahat

"Tingginya social distrust ditambah dengan lemahnya sikap kritis masyarakat atas isi informasi dan sumbernya. Lalu, melek medsos masih rendah, serta adanya pihak-pihak tertentu yang lebih dipercaya masyarakat tentu bisa menjadi faktor-faktor yang melatari mengapa hoaks lebih menang," kata Ida saat diwawancara, Rabu (6/10/2021).

Bertalian dengan konflik di Yahukimo, Papua, yang diduga dipicu hoaks penyebab kematian mantan Bupati Yahukimo Abock Busup, Ida menuturkan, ada aspek sosio kultural masyarakat setempat dan sejarah relasi antarsuku yang perlu dipahami.

Dia mengatakan, relasi antarsuku di Yahukimo, khususnya dua kelompok yang terlibat dalam kerusuhan, yaitu Suku Kimyal dan Suku Yali berkontestasi secara politik.

Abock Busup, bagi Suku Kimyal bukan hanya figur tokoh masyarakat, tetapi juga sebagai simbol kebanggaan suku.

Karena itu, menurut Ida, akhirnya masyarakat tidak bisa memahami informasi secara kritis karena ada prasangka di sana.

"Jika relasinya cenderung tegang, tentu menstimulasi ketidakpercayaan antarkelompok dan warganya. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, sikap kritis tidak terbangun, karena sudah dipenuhi prasangka," ujarnya.

Baca juga: Balas Dendam, Fotografer Ini Hapus Foto Pernikahan Temannya karena Kesal Tak Boleh Istirahat

Baca juga: Imam Menangis saat Bom Mother Of Satan Diledakkan di Gunung Ciremai: Ternyata Sangat Berbahaya

Selain itu, Ida menyatakan, budaya paternalistik di Papua masih sangat kuat.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved