ypmak
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)

PON XX Papua

Kisah Mama Papua Belajar Membatik, Karyanya Dijual di UMKM PON XX

Harga yang dijual Alfrida untuk 2 meter kain Batik tulis Rp 300 ribu. Motifnya dapat dipilih sesuai keinginan pembeli. 

Tribun-Papua.com/Istimewa
Alfrida Tapatkeding (38), mama Papua asal Genyem, Kabupaten Jayapura, memproduksi kain batik lalu menjualnya di kawasan penyelenggaraan PON XX.  

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Alfrida Tapatkeding (38), mama Papua asal Genyem, Kabupaten Jayapura, memproduksi kain batik lalu menjualnya di kawasan penyelenggaraan PON XX. 

Alfrida mengaku mulanya sangat sulit belajar membatik, terlebih  masih hal baru baginya. 

"Awal belajar membatik itu, saya rasa sulit tapi mulai diajar cara memegang canting, mencampur dan akhirnya lama-lama bisa," ujarnya saat ditemui Tribun-Papua.com, Kamis (7/10/2021).

Alfrida bersama mama-mama Papua lainnya belajar selama 2 minggu di Kampung Kemiri, Sentani.

"Setelah pelatihan, kami diberikan alat dan bahan membatik, ada kain katun, lilin malam, dan canting," sebutnya. 

Walaupun saat awal belajar Alfrida merasa sulit, namun dirinya merasa termotivasi untuk membatik.

Baca juga: Kisah Saudagar Aceh Teuku Markam Sumbang Emas untuk Monas, Dituduh PKI dan Dipenjara Soeharto

"Kalau orang dari negara lain yang bukan budayanya membatik saja bisa, kenapa kita yang satu negara tidak bisa, itu morivasi yang saya bangun," imbuhnya. 

Adapun motif batik yang telah dibuatnya ada 5 macam, yakni motif tempat kapur, Kangguru, Burung Cenderawasih, Kasuari, dan ukiran khas Papua lainnya. 

Harga yang dijual Alfrida untuk 2 meter kain Batik tulis Rp 300 ribu. Motifnya dapat dipilih sesuai keinginan pembeli. 

Baca juga: Klasemen Sementara Perolehan Medali PON XX, Jawa Barat dan Papua Salip DKI

Sempat bingung sebab belum tahu, karya batiknya dapat dipasarkan ke mana nantinya, Alfrida tak putus asa dan tetap terus membatik.

Dengan adanya PON XX, dirinya bersyukur dapat terlibat sebagai UMKM resmi pada iven empat tahunan itu di GOR Toware Kabupaten Jayapura

Alfrida dan mama lainnya juga telah memproduksi beberapa kain batik yang dikhususkan untuk PON XX Papua.

Baca juga: Guru SD Asal Sulawesi Utara Jadi Wasit Bulutangkis Perempuan Satu-satunya di PON Papua

Alfrida juga mengungkapkan, membatik merupakan cara baru untuk menuangkan kekayaan alam, identitas budaya, dan ornamen-ornamen adat dalam kain batik

"Kita harus cinta Batik, karena budaya Indonesia, dan kita bisa lihat Batik Papua yang harus terus dilestarikan," imbaunya. 

Disinggung soal minat kontingen PON XX, Alfrida mengatakan sudah ada yang tanya dan tertarik untuk membeli. 

"Ini kan baru sehari jualan di sini (GOR Toware), nanti kita lihat ke depannya," tandasnya. 

Terakhir, Alfrida berharap agar tidak hanya mama-mama Papua, tetapi generasi muda Papua juga harus bisa membatik dan bangga menggunakan Batik Papua. (*) 

Sumber: Tribun Papua
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved