Jumat, 10 April 2026

PON XX Papua

Dinilai Curang, Pengprov Pertina Papua Ajukan Gugatan ke BAORI

Pengurus Provinsi Pertina Papua berencana bakal melayangkan gugatan ke Badan Arbritasi Olahraga Indonesia (BAORI)

Penulis: Ri | Editor: Maickel Karundeng
Istimewa
Ketua Pengprov PERTINA Papua Ricky Ham Pagawak (RHP), saat memberikan keterangan pers di Jayapura, Kamis (14/10/2021) malam. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Ridwan Abubakar

TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA - Pengurus Provinsi Pertina Papua berencana bakal melayangkan gugatan ke Badan Arbritasi Olahraga Indonesia (BAORI)

Gugatan itu lantaran partai final Cabor Tinju Nomor kelas 81-91 dinilai ada unsur kecurangan yang merugikan Papua.

Ketua Pengprov Papua Ricky Ham Pagawak (RHP) mengatakan, pihaknya telah menggelar pertemuan untuk mencari solusi penyelesaian, namun dari pihak lawan tidak merespon.

Baca juga: Usai Kunjungi Manokwari, Wapres Maruf Amin Menuju Jayapura Tutup PON Papua

“Saya dan Pak Rumasukun langung mendatangi penginapan Pemda Jateng. Ternyata yang ada Wagub Jateng, tapi ia tak bersedia untuk menerima kami,”kata Ricky ketika dikonfirmasi Tribun-Papua.com, Jumat (15/10/2021)

“Berarti kami menilai kasus ini ada didalam satu sistem yang sudah diatur, untuk mengalahkan kami, khusus di cabor tinju,”ujarnya.

Ham mengatakan, pihaknya secara terbuka menyampaikan hasil yang diperoleh dalam pertandingan kelas berat tersebut tak sah.

Baca juga: 3 Hari Hilang, Bocah yang Diserang Buaya Ditemukan sang Ayah, Polisi: Anaknya Timbul di Bawah Pohon

“Medali yang disiapkan di kelas berat ditahan sampai kita duduk bersama untuk membuktikan sebenarnya Jateng dimenangkan, karena apa atau karena memang ada unsur lain,”katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Pertina Papua Rahmad Koko Marimbun mengatakan, jika masalah ini tak segera diputuskan, maka pihaknya akan mengadukan ke Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) untuk mencari keadilan.

Selain itu,Septinus Jarisetouw salah satu panitia menyebut pertandingan tinju PON XX/2021 Papua sangat luar biasa namun yang menjadi persoalan yakni adanya ketidak adilan dalam memutuskan pemenang.

Baca juga: Shani Maharani: Keindahan Alam Papua Jadi Cerita Hidup Saya

“Kami panitia lokal ataupun Panpel telah desain seluruh pertandingan ini berjalan dengan baik, namun wasit/hakim tak profesional, walaupun memiliki bintang 1 AIBA,"ujarnya.

"Tapi mereka tak punya kemampuan memimpin pertandingan. Banyak atlet yang membuat kesalahan, tapi mereka tak tegur menyebabkan penilaian miring,”katanya.

Sebelumnya dikabarkan, kericuhan berawal saat pertandingan di akhir ronde 3. Sebuah hook kanan Erico menghajar Willis yang mengakibatkan pelipis mata kanan Willis sobek.

Baca juga: Terpergok Curi Anak Sapi Pakai Mobil, Pria Ini Kabur Tinggalkan Anaknya Dihajar Warga

Wasit Royke Waney (Sulut) memberhentikan sementara pertandingan dan memintah dokter ring memeriksa luka sobek yang diderita Willis.

Lantaran luka sobek tersebut membahayakan Willis, maka dokter ring memberikan kode agar pertandingan dihentikan.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved