Feature
Albert Fakdawer, Dari Aktor Film Hingga Jadi Musisi
Penyuka musik itu pernah berperan sebagai aktor film Denias senandung diatas awan hingga tampil diajang AFI Junior
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Maickel Karundeng
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Penyuka musik itu pernah berperan sebagai aktor film Denias senandung di atas awan hingga tampil di ajang AFI Junior
Rupanya darah musisi mengalir dari sang ayah tercinta. Dia salah satu dari puluhan musisi asal Bumi Cenderawasih.
Baca juga: Jadwal Persipura Jayapura Vs Persik Kediri Hari Ini, Persaingan Papan Bawah Klasemen Liga 1
Ternyata ia menyukai musik sejak masih belia. Namanya, Albert Thom Josua Fakdawer. Di balik layar telepon genggamnya, Albert mengisahkan perjalanan karier mulai dari aktor film hingga jadi musisi kepada Tribun-Papua.com.
Albert Fakdawer lahir di Jakarta pada 29 Juni 1993, dari pasangan Musa Fakdawer dan Reni Aronggear.
Baca juga: Kisah Kontroversial Amir Sjarifuddin, Dihukum Mati Atas Peristiwa Madiun 1948
Albert menyukai dunia musik sejak berusia Sekolah Dasar lantaran sering mengikuti lomba menyanyi di acara 17 Agustus tiap tahun, di kampungnya.
Melihat anaknya menyukai musik, ketika Albert duduk di bangku kelas 4 SD, ayah tercinta Musa Fakdawer membentuk vokal grup bernama The Four Kids sekira 2003 silam.
"Kami dibentuk dalam sebuah grup vokal The Four Kids, dan sering bernyanyi di berbagai gereja di Jakarta," kata Albert dibalik gadget.
Baca juga: Info Rekrutmen Relawan Peparnas XVI Papua, Simak Jadwal dan Bidangnya
Bakat Albert tertarik pada seni tarik suara. Sepertinya, seni tarik suara mengalir dalam tubuhnya.
Ayahnya Musa Fakdawer juga salah satu musisi senior Papua, yang sempat membentuk embrio Black Brothers.
Sementara ibunya, Reni Aronggear hanya ibu rumah tangga. Reni semasa mudanya, dihabiskan untuk ikut paduan suara.
"Bernyanyi bagi saya dan keluarga sudah menjadi budaya," sebut Albert sambil tertawa lepas.
Baca juga: Seminggu PON XX Papua Usai, Sampah Nasi Basi Masih Hiasi Markas Persipura Jayapura
Pada 2004, Albert mengikuti ajang AFI Junior di salah satu stasiun TV Swasta. Anak keempat dari tujuh bersaudara itu, mengaku sejak kecil suka musik dan bermain bola.
"Dari kecil, di lingkungan rumah itu, bisa dibilang cukup berpotensi besar untuk bermain bola," kenang Albert.
Meski Albert suka tarian dan bola, tetapi takdir Tuhan berkata lain, Albert memilih mengikuti jejak sang ayah di dunia musik.
"Tarian antara main bola dan main musik, namun saya memilih jalan saya sendiri, bermusik,"ujarnya.
Baca juga: Persipura Bersiap Hadapi Persik Kediri, Jacksen Waspadai 3 Pemain Macan Putih
Aktor Film
Masih di 2004, usai bergabung di ajang AFI Junior, lelaki berdarah campuran Biak-Serui itu, pernah bergabung didunia perfilman.
Waktu itu, ia diminta memerankan sosok Denias. Film itu berjudul Denias, Senandung di atas awan.
"Jadi ceritanya berawal dari gelaran AFI Junior, dilirik oleh mertuanya Kaka Ari Sihasale, sehingga ketika selesai, kami ada 5 orang, bertemu untuk diskusi soal film,"kata Albert menjelaskan dari balik layar hendphonnya.
Baca juga: Persipura Bersiap Hadapi Persik Kediri, Jacksen Waspadai 3 Pemain Macan Putih
Saat itu, media sosial belum menjamur, media transformasi masih kecil, akhirnya Albert diberikan kesempatan menjadi pemeran utama dalam film Denias.
"Saat itu, mereka (kaka Ari dan Nia) hanya menginginkan saya bisa berakting, tanpa terganggu dengan kamera, dibikin senatural mungkin,"ujar Albert sembari mengingat kembali.
Ingatan Albert masih kental, waktu itu dia baru berumur 6 tahun, sudah mengikuti proses syuting film.
Sejak itu, syuting film tersebut pada Mei 2006, didua daerah berbeda yakni Timika dan Wamena.
Baca juga: Mengenal Hara dan Wara, Maskot Peparnas XVI Papua
Dalam film itu, Albert berupaya mencocokkan karakter Denias di dalam dirinya. Meski demikian, Albert berdalih tak ada kesulitan berarti, kala itu.
"Saya hanya berdoa waktu itu, Tuhan apa yang bisa saya lakukan untuk Papua, dan semua dipermudah,"katanya.
Salah satu karakter Denias yang diminta harus diperankan ialah sosok yang natural dan apa adanya, serta tidak dibuat-buat seperti khalayak biasa.
Baca juga: Mengenal Hara dan Wara, Maskot Peparnas XVI Papua
Yang menjadi favorit dalam Film Denias, Albert menyebut saat part "Maleo berkata kepada Denias, kalau belajar itu bisa di mana saja."
Menurut Albert, pesan dalam kalimat itu sangat benar dirasakannya, tatkala putus kuliah di salah satu kampus di Karawaci, karena kendala finansial.
Namun kata-kata yang diucapkan Maleo dalam film itu, menginspirasi hidupnya untuk tak putus asa, walaupun mengenyam pendidikan tinggi.
"Bukan berarti hidup selesai, karena tidak berpendidikan,"ujarnya.
Baca juga: Sambut Kedatangan Jokowi ke Kalsel, Ratusan Mahasiswa Unjuk Rasa Tuntut Janji
Niat Albert terjun ke dunia perfilman bukan pakasaan orangtua, melainkan murni dari hatinya, ingin berbuat lebih bagi tanah Papua.
Melalui film yang itu, Albert mengatakan potensi anak-anak muda Papua beradu akting sangat cakap, dan yang paling penting kesempatan terbuka lebar.
"Sekarang tinggal bagaimana bisa berjejaring, kita bisa berteman dan saling bekerjasama, utamakan sisi profesionalisme dalam sebuah film,"katanya.
Baca juga: Arus Lalu Lintas di Depan Pelabuhan Jayapura Macet
Berkat film ini, Albert meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik FFI 2006, dan Aktor Pendatang Baru Terbaik Indonesian Movie Awards 2007.
Selain Film Denias Senandung di Atas Awan, Albert juga pernah menjadi aktor Film Doea Tanda Cinta 2015, dan miniseries Andai Aku Bisa di 2005.
Sejak itu, Albert bermain film bersama Didi Petet dan para finalis AFI Junior.
Baca juga: Arus Lalu Lintas di Depan Pelabuhan Jayapura Macet
Terlibat di Opening PON
Lelaki lulusan SMA Negeri 1 Ciputat itu, baru-baru ini dilibatkan sebagai salah satu pengisi acara PON.
Melalui manajernya, Albert diminta mengisi dalam acara Opening Ceremony PON XX Papua.
Ia tampil memukau bersama grup vokal Papua Original, dengan membawa lagu "Papua Dalam Cinta", yang sebelumnya dipopulerkan oleh Pay feat Soa-soa.
"Saat tampil membawa lagu Papua Dalam Cinta di Opening PON XX, saya sempat meneteskan air mata, saat nyanyi penggalan lirik harumkan Indonesia dari sini," kata Albert.
Baca juga: Seluas Lapangan Bola, Begini Kemegahan Panggung Opening Ceremony Peparnas XVI Papua
Walaupun nyanyian lagu Papua Dalam Cinta, sering ia dengar, namun atmosfer PON dan cerita di balik keterlibatannya, ia terharu, air matanya mengalir dipipi.
Albert bangga dapat terlibat dalam event empat tahunan yang digelar di Provinsi Papua itu.
"Ini bisa dibilang ratusan tahun sekali, saya bisa berkontribusi seperti ini, it's not about money, tapi ini tentang visi, sesuatu yang jauh ke depan,"ujarnya.
Baca juga: Dipicu Video TikTok, Siswa SMA Dikeroyok Kakak Kelas, Orangtua Korban Lapor Polisi Tak Mau Damai
Sebelum tampil di PON XX Papua, pada 2008 silam, ayahnya sebelum dipanggil sang khalik, dia menginginkan anaknya bisa tampil di event olahraga nasional.
Keinginan ayahnya terwujud sudah di event PON XX Papua. Musa Fakdawer, ayah tercintanya dipanggil pulang ke rumah bapa di Surga oleh sang pemilik hidup pada 12 Maret 2019.
"Untuk terpikirkan ada di PON itu, saya sudah tidak fikir lagi,"kata Albert mengingat kembali keinginan ayah yang sudah tiada lagi.
Baca juga: Bunuh Tetangga, Pria di Sulut Tuduh Pelaku Punya Ilmu Hitam: Istri dan Ponakan Saya Sakit Berat
"Jadi kisah PON ini menjadi personal bagi saya, karena ada andil doa ayah saya," kenangnya.
Albert berharap generasi muda Papua dapat memberikan pengabdian di bidang masing-masing untuk negerinya.
"Saya berpesan untuk tidak cinta uang, karena itu bahaya sekali, usahakan untuk melayani lewat karya,"tambah Albert.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/albert-fakdawer-1.jpg)