Budaya Papua
Menjaga Gerabah Kampung Abar
Kampung Abar sendiri hingga kini masih masih menjadi perkampungan di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura yang mempertahankan kerajinan gerabah.
Penulis: Musa Abubar | Editor: Roy Ratumakin
Dalam aturan adat disebutkan dalam kegiatan mengambil bahan tanah liat atau dalam membuat gerabah tidak boleh dilakukan oleh para perempuan yang sedang datang bulan atau juga dalam keadaan hamil.
Ini bertujuan untuk menjaga kemurnian tanah liat, dan jika ada yang melanggar aturan tersebut maka gerabah yang dihasilkan akan hancur.
Yemima Ebalkoi salah satu warga Abar mengatakan hingga kini tanah liat yang diambil oleh masyarakat untuk membuat gerabah agak jauh dari kampung, jaraknya sekitar 500 meter lantaran tanah di sekitar kampung, tidak cocok untuk pembuatan gerabah.
Rata-rata masyarakat Abar mengambil tanah liat untuk membuat gerabah dari pinggir bukit dengan menggunakan besi linggis untuk mencungkil dan wadah karung untuk mengisi.
Karung yang digunakan berbagai ukuran. Tanah liat yang diambil tak sembarang harus dipilih. Warga taat terhadap tata cara pengambilan tanah liat.
Ketaatan itu menjadikan kerajinan gerabah di Kampung Abar masih diminati penduduk sekitar dan menjadi souvenir.
Barbalina Ebalkoi salah satu pengrajin sekaligus pengajar gerabah di Abar mengatakan hingga kini masih tekun mempertahankan kerajinan membuat gerabah/sempe setelah diajari ibu kandungnya.
"Saya belajar buat gerabah ini secara otodidak dari mama saya sewaktu masih muda,"kata orang tua dari delapan cici ini.
Dari belajar otodidak, perempuan 9 bersaudara itu mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak muda di kampung itu lalu mengajari mereka membuat gerabah.
Alhasil, seluruh ibu rumah tangga dan anak-anak muda mahir membuat gerabah. Sempat ada kelompok pembuatan gerabah yang dibentuk.
Namun, karena masalah keuangan dan lainnya, kelompok itu bubar.
Hingga kini pengrajin gerabah Abar masih mengupayakan koperasi atau semacam tempat untuk memasarkan gerabah.
Meski begitu, mereka tetap tekun membuat gerabah dalam rumah untuk dijual jika ada yang datang ke kampung untuk mencari.
Perempuan Kelahiran, 10 Agustus 1952 itu menyebut anak-anak sekolah disitu mahir membuat gerabah hanya saja tidak fokus lantaran sekolah.
Data dari komunitas gerabah bimbingan Barbalina Ebalkoi hingga kini siswa SMP asal Kampung Abar yang mahir membuat gerabah sekitar 15 orang, Sekolah Dasar sebanyak 20 orang, selanjutnya, Sekolah Menengah Atas sekira 10 orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/19112021-gerabah-4.jpg)