Budaya Papua
Menjaga Gerabah Kampung Abar
Kampung Abar sendiri hingga kini masih masih menjadi perkampungan di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura yang mempertahankan kerajinan gerabah.
Penulis: Musa Abubar | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Musa Abubar
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Sekelompok remaja terlihat sibuk mengatur tumpukan tanah liat pada sebuah lapang ukuran 5x6 meter.
Tangan mereka terlihat cekatan memainkan adonan tanah liat pada peralatan pembuatan gerabah. Sesekali mereka bersenda gurau sambil menyanyi lagu daerah Papua.
Mereka adalah siswa menengah atas yang belajar membuat kerajian garabah di Kampung Abar, Santani, Jayapura, Papua.
Baca juga: Hana Hikoyabi: Sebagian ADK Harus Digunakan Untuk Pengembangan Gerabah
Saban akhir pekan kelompok remaja ini rutin menekuni aktivitas membuat garabah.
Kampung Abar sendiri hingga kini masih masih menjadi perkampungan di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura yang mempertahankan kerajinan gerabah.
Orang dewasa hingga anak-anak muda di kampung itu sangat mahir membuat gerabah berbahan tanah liat dengan berbagai bentuk.
Untuk mencapai kampung ini hanya bisa dengan mengunakan transportasi air.
Satu-satunya transportasi ke kampung ini adalah menggunakan speed boat dari Pantai Yahim, Sentani dengan jarak tempuh sekitar 25 menit perjalanan mengarungi danau Sentani.
Biaya pulang pergi satu orang penumpang Rp 20 ribu Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, masuk salah satu kampung di wilayah Sentani Tengah.
Kampung itu terletak di bawah kaki gunung, jumlah penduduk yang menetap disitu sebanyak 286 orang.
Warga di kampong ini rata-rata membangun rumahnya dalam bentuk panggung di atas air Danau.
Baca juga: Barbalina Ebalkoi, Melestarikan Kerajinan Gerabah Peninggalan Leluhur
Masyarakat yang berdomisili disitu ramah menerima mereka yang datang dari luar.
Komunikasi dengan menggunakan handphone di Abar lancar, ada juga jaringan internet tapi tak selancar komunikasi menggunakan gadget, tersendat-sendat alias sedikit loading lambat.
Warisan Moyang Marga Felle
Kampung Abar merupakan kampung yang unik. Gerabah dari kampung Abar ini umumnya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan peralatan masak maupun wadah penyimpanan makanan bagi masyarakat di wilayah Sentani dan sekitarnya.
Kepala Suku Abar, Naftali Felle mengatakan munculnya kerajinan gerabah di Kampung Abar dimulai oleh marga Felle dari Suku Assouw.
Baca juga: Naftali Felle, Pendiri Kelompok Pengrajin Gerabah Titian Hidup Kampung Abar Sentani
Kerajinan gerabah tersebut diperkenalkan oleh nenek moyang marga Felle yang bermigrasi dari Pasifik, dengan berlayar hingga tiba di wilayah Papua.
Mereka datang dengan membawa tanah liat yang diikat dalam wadah dari pelepah nibung.
Ketika bermigrasi, nenek moyang marga Felle tersebut tiba di kampung Kayu Batu di wilayah Teluk Humbold, Kota Jayapura, dan mereka tinggal di tempat tersebut untuk beberapa waktu dan selanjutnya melakukan perjalanan ke arah Danau Sentani.
Tanah liat yang dibawa dari Pasifik tersebut, ada sebagian yang terjatuh di wilayah Kayu Batu, hal ini mungkin yang membuat masyarakat yang tinggal di kampung Kayu Batu juga membuat gerabah.
Perjalanan jauh dari kampung Kayu Batu hingga tiba di kawasan Danau Sentani, yaitu di kampung Yobe, dan mereka tinggal di tempat tersebut sampai beberapa generasi, namun karena ada masalah di Dusun Kelapa akhirnya mereka pun berpindah lagi, dan tiba di Kampung Atamali.
Di Kampung Atamali, mereka diterima dengan baik dan diberi tempat tinggal oleh suku yang ada.
Baca juga: Balai Arkeologi Papua Temukan Artefak Batu Berbentuk Pipih di Kampung Abar
Nenek moyang marga Felle pun tinggal bersama di kampung Atamali untuk beberapa waktu, dan ketika itu juga tanah liat yang mereka bawa dari timur dikembalikan ke alam di wilayah kampung yang sekarang disebut kampung tua atau Kampung Ebale, dan mereka juga tinggal di wilayah tersebut serta membuat kerajinan gerabah.
Selanjutnya nenek moyang suku Felle membuka kampung baru ke arah selatan yaitu di tempat kampung Abar sekarang ini berdiri.
Wilayah kampung Abar ini, marga Felle terus membuat kerajinan gerabah. Kerajinan ini awalnya dibuat hanya oleh laki-laki di dalam ruang tertutup dan tidak boleh ada orang yang melihatnya.
Baca juga: Jalan-jalan ke Kampung Abar Jayapura, Penghasil Gerabah di Papua
Pembuatan gerabah ini dibuat secara sembunyi-sembunyi dan pembakaran dilakukan pada saat malam hari karena ada aturan yang harus ditaati, dan jika aturan tersebut dilanggar maka gerabah yang dihasilkan tidak baik, yaitu pecah dan hancur.
Seiring perjalanan waktu dan pembauran masyarakat suku-suku di Kampung Abar, kerajinan gerabah pun beralih dikerjakan oleh kaum perempuan dan kaum laki-laki juga kadang membantu.
Pelestarian Gerabah Abar
Pembuatan kerajinan ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun tetap mengikuti aturan-aturan adat yang berlaku, dan pembuat kerajinan tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh marga Felle, tetapi oleh semua suku yang ada di Kampung Abar demi kebersamaan dan persekutuan antarsuku.
Dalam aturan adat disebutkan dalam kegiatan mengambil bahan tanah liat atau dalam membuat gerabah tidak boleh dilakukan oleh para perempuan yang sedang datang bulan atau juga dalam keadaan hamil.
Ini bertujuan untuk menjaga kemurnian tanah liat, dan jika ada yang melanggar aturan tersebut maka gerabah yang dihasilkan akan hancur.
Yemima Ebalkoi salah satu warga Abar mengatakan hingga kini tanah liat yang diambil oleh masyarakat untuk membuat gerabah agak jauh dari kampung, jaraknya sekitar 500 meter lantaran tanah di sekitar kampung, tidak cocok untuk pembuatan gerabah.
Rata-rata masyarakat Abar mengambil tanah liat untuk membuat gerabah dari pinggir bukit dengan menggunakan besi linggis untuk mencungkil dan wadah karung untuk mengisi.
Karung yang digunakan berbagai ukuran. Tanah liat yang diambil tak sembarang harus dipilih. Warga taat terhadap tata cara pengambilan tanah liat.
Ketaatan itu menjadikan kerajinan gerabah di Kampung Abar masih diminati penduduk sekitar dan menjadi souvenir.
Barbalina Ebalkoi salah satu pengrajin sekaligus pengajar gerabah di Abar mengatakan hingga kini masih tekun mempertahankan kerajinan membuat gerabah/sempe setelah diajari ibu kandungnya.
"Saya belajar buat gerabah ini secara otodidak dari mama saya sewaktu masih muda,"kata orang tua dari delapan cici ini.
Dari belajar otodidak, perempuan 9 bersaudara itu mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak muda di kampung itu lalu mengajari mereka membuat gerabah.
Alhasil, seluruh ibu rumah tangga dan anak-anak muda mahir membuat gerabah. Sempat ada kelompok pembuatan gerabah yang dibentuk.
Namun, karena masalah keuangan dan lainnya, kelompok itu bubar.
Hingga kini pengrajin gerabah Abar masih mengupayakan koperasi atau semacam tempat untuk memasarkan gerabah.
Meski begitu, mereka tetap tekun membuat gerabah dalam rumah untuk dijual jika ada yang datang ke kampung untuk mencari.
Perempuan Kelahiran, 10 Agustus 1952 itu menyebut anak-anak sekolah disitu mahir membuat gerabah hanya saja tidak fokus lantaran sekolah.
Data dari komunitas gerabah bimbingan Barbalina Ebalkoi hingga kini siswa SMP asal Kampung Abar yang mahir membuat gerabah sekitar 15 orang, Sekolah Dasar sebanyak 20 orang, selanjutnya, Sekolah Menengah Atas sekira 10 orang.
Pada momentum Pekan Olahraga Nasional XX Papua, mama Barbalina menyiapkan 22 gerabah/sempe untuk dijual di Stadion Lukas Enembe. Namun, kurang diminati.
Kala itu, Barbalina menjual gerabah untuk masak ikan atau biasa disebut belanga tanah Rp 200 ribu sampai Rp 500 ribu.
Lalu gerabah berukuran kecil mirip vas bunga, tiga buah seharga Rp100 ribu. Gerabah berukuran sedang dengan dibalut anyaman rotan di bagian bawahnya, biasa disebut roda dihargai Rp 200 ribu.
Untuk gerabah berbentuk baki dua buah masing-masing dijual dengan harga Rp 100 ribu. Dari 22 gerabah yang dijual hanya dua gerabah yang laku yakni gerabah berbentuk baki.
Sementara Pekan Paralimpik Nasional XVI Papua, tidak diberikan kesempatan mempromosikan gerabah.
Meski kreativitas gerabah unik dan menarik di Abar namun belum ada tempat untuk dipasarkan. Beatrikz Felle pengrajin gerabah lainnya menyebut hingga kini ia masih tekun membuat gerabah namun tak dijual lantaran tak ada tempat di ibu kota kabupaten.
"Sampai sekarang sisah 22 gerabah berbagai bentuk yang saya simpan di dalam rumah, saya mau jual tapi tidak ada tempat. Banyak yang saya buat tapi orang beli sampai tinggal itu. Biasanya kalau orang butuh gerabah mereka datang ke kampung untuk beli,"katanya.
Kepala Kampung Abar, Yonas Doyapo menyebut hingga kini tak ada alokasi dana khusus untuk pembinaan dan pengembangan kerajinan gerabah di Abar.
"Harus ada proposal yang memuat tentang pengembangan gerabah diajukan ke pemerintah kampung lalu ke pemerintah kabupaten, agar ada dana khusus untuk pengembangan kreativitas gerabah,"ujar Yonas Doyapo.
Ada dana untuk pembangunan kampung seperti pembangunan rumah dan jalan, tapi tak ada untuk pengembanbangan kerajinan gerabah.
Meski demikian, pemerintah kampung masih berupaya mencari tempat untuk warga memasarkan gerabah di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura.
Pemerintah Kampung Abar masih terus membangun komunikasi dengan sejumlah instansi terkait di kabupaten itu, di antaranya Dinas Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Jayapura serta Dinas Pariwisata kabupaten itu.
Komunikasi yang dibangun terkait tempat untuk memasarkan kerajinan gerabah khas Kampung Abar tapi juga promosinya.
Jalinan komunikasi yang sama juga sudah dilakukan dengan bupati kabupaten setempat.
Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jayapura Harianto Piet Hoyan enggan berkomentar ketika dikonfirmasi terkait aturan yang mengatur soal gerabah Abar.
Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura Hana Hikoyabi menyebut, pemerintah kabupaten setempat sudah pernah mengarahkan masyarakat Abar terkait pembuatan gerabah hingga penjualan.
Kala itu, Hana masih bekerja di Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) kabupaten setempat.
"Waktu itu kita lakukan pelatihan dan bilang kamu bikin gerabah berukuran kecil untuk perabot rumah dan vas bunga sehingga bisa dibagi ke setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), tapi tidak pernah dikerjakan," kata Hana.
Hana pernah mengarahkan masyarakat Abar agar membuat gerabah yang bagus, menarik dan unik agar tak mudah pecah saat dibakar.
Untuk pengembangan, kepala kampung diminta mengalokasikan sebagian dana kampung untuk pengelolaan kerajinan ini.
Masyarakat disarankan membuat souvenir gerabah beragam bentuk lalu dijual di Bandar Udara Theys Hiyo Eluay Sentani agar menarik dan bisa dibeli.
Jika gerabah yang dibuat besar maka susah dibawa dan tak bisa dibeli.
"Kalau masyarakat buat tempat taruh pulpen, tempat minum, dari tanah liat, dan souvenir lainnya lalu dijual di Bandara Sentani dengan harga murah maka akan laris manis, dan itu harus diproduksi setiap hari,"ujarnya.
Warga Abar sudah diajari untuk menjual gerabah dengan harga murah melalui daring/online lantaran kini zaman digital. Dengan demikian, mereka bisa menjual gerabah dari rumah.
Pemerintah Kabupaten Jayapura telah bekerjasama dengan Kementerian Hukum dan HAM Papua, untuk mendorong benda-benda budaya, kreativitas masyarakat kampung termasuk gerabah agar dilindungi oleh negara.
Perlindungan ini bisa secara nasional dan dunia, seperti noken yang sudah masuk warisan budaya dunia, diharapkan gerabah juga demikian. Bisa punya hak intelektual dan dilindungi oleh negara.
Asal Usul dan Arti Gerabah
dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto menjelaskan istilah gerabah dalam dunia arkeologi sudah sangat terkenal. Namun, orang awam pun mengenalnya dari sisi yang lain.
Berbagai benda juga dihasilkan oleh para pengrajin, seperti gentong, pasu, pot bunga, mangkok, cobek, kendi, dan sebagainya.
Seringnya diadakan pameran pun menandakan benda ini cukup populer di mata masyarakat.
Istilah gerabah biasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat.
Selain dengan sebutan di atas, ada pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi menyebutnya keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing.
Gerabah dibuat dari jenis tanah liat yang dicampur. Campuran yang digunakan terdiri dari tanah liat, pasir dan batu gamping yang dihaluskan.
Suhu pembakarannya antara 350-1000 derajat celcius. Warna gerabah tidak bening, berpori, dan bersifat menyerap air.
Diduga gerabah pertama kali dikenal pada masa neolitik (kira-kira 10.000 tahun SM), di daratan Eropa dan mungkin pula sekitar akhir masa paleolitik (kira-kira 25.000 tahun SM) di daerah Timur Dekat. Menurut para ahli kebudayaan, gerabah merupakan kebudayaan yang universal (menyeluruh).
Ini berarti gerabah ditemukan di mana-mana, hampir di seluruh bagian dunia. Perkembangannya bahkan juga penemuannya muncul secara individual di tiap daerah tanpa harus selalu dipengaruhi oleh budaya yang datang dari luar. Mungkin juga masing-masing bangsa menemukan sendiri system. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/19112021-gerabah-4.jpg)