Sosok
Usia Senja Bukan Hambatan Bagi Ngardi Mengais Rejeki dengan Gerobak Hijau
Siang itu pukul 12.35 WIT, matahari tepat berada di atas kepala, seorang pria tua tampak tertatih mendorong gerobak hijaunya, seolah mencari tempat.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Siang itu pukul 12.35 WIT, matahari tepat berada di atas kepala, seorang pria tua tampak tertatih mendorong gerobak hijaunya, seolah mencari tempat berlindung.
Dari kejauhan ia sesekali nampak, mengusap dahinya yang berkeringat, karena udara memang terasa begitu terik di Kawasan Pusat Bisnis Ruko Dok II Jayapura itu, dengan suhu udara 31 derajat celcius.
Pria tua itu akhirnya berteduh di depan rumah makan, sambil memeriksa gerobaknya.
Baca juga: Hampir 98% Bangunan di Kota Jayapura Tidak Penuhi Syarat Proteksi Kebakaran
Saat memastikan ia sedang beristirahat, jurnalis Tribun-Papua.com menghampirinya dan mencoba untuk mengobrol santai.
"Oh kamu wartawan, iya saya ini jualan sehari-hari di sini," ucap pria itu sebagai pembuka.
Setelah berkenalan, diketahui namanya Ngardi, ia adalah pedagang asongan yang sehari-hari berjualan di Kawasan Ruko Pasifik Permai Dok II.
Semakin terbesit rasa penasaran, Tribun-Papua.com mencoba untuk menggali lebih dalam terkait kisah hidupnya.
Ngardi ternyata merupakan perantauan dari Kabupaten Pati Jawa Tengah, ia datang ke Papua sejak tahun 1980-an.
Dengan semangat jiwa muda saat itu, Ngardi bertekad untuk keluar dari kampung halamannya, menuju suatu daerah di ujung Nusantara, yang asing baginya kala itu.
Baca juga: Kronologi Kopassus dan Brimob Bentrok Perkara Harga Rokok di Timika, 5 Anggota Polisi Terluka
"Iya ke Papua ini, kala itu bernama Irian Jaya seingat saya, oh dulu itu di sini (Kawasan Ruko Dok II) masih laut semua," kenangnya singkat.
Dikatakannya, tujuan ia datang ke Papua untuk bekerja sebagai pedagang, menjual kue dan kerupuk.
"Saya jual macam-macam kue, pokoknya banyak, ada arem-arem, bakwan dan kerupuk juga," sebut Ngardi.
Ia mengingat saat itu, harga 1 buah kue yang dijualnya masih seharga Rp 50, dan biasa dibeli anak-anak sekolah.
Baca juga: Update Kondisi Warga Suru-Suru Korban Penembakan KKB, Kini Dievakuasi ke Asmat
"Kalau sekarang kan sudah Rp 2.000 per kuenya," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/30112021-ngardi.jpg)