Opini

[OPINI] Moralitas Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Suasana kontras terjadi di Indonesia. Sejak ditetapkan sebagai tersangka, para predator uang negara masih bisa mengumbar senyuman.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Ilustrasi koruptor 

Oleh: Achmad Fauzi

Wakil Ketua Pengadilan Agama Penajam, Kalimantan Timur, Mahasiswa Pascasarjana Magister Hukum Universitas Balikpapan

=============

MASA depan koruptor di negeri ini tak sesuram di Cina. Di negeri Tirai Bambu itu pikiran koruptor dibayangi teror tentang kematian. Siapa berani korupsi lebih dari 100.000 Yuan diganjar hukuman mati.

Hukum dan moral benar-benar menjadi jangkar utama pemberantasan korupsi.

Suasana kontras terjadi di Indonesia. Sejak ditetapkan sebagai tersangka, para predator uang negara masih bisa mengumbar senyuman.

Mereka tahu masa depannya masih cerah dan jauh dari bayang-bayang kematian. Meski hukuman badan menjadi instrumen penjeraan, namun konsep pemenjaraan badan tak selamanya efektif.

Buktinya, di lembaga pemasyarakatan (lapas) koruptor masih bisa menyulap kamar menyerupai hotel. Memperoleh berbagai fasilitas mewah.

Baca juga: BREAKING NEWS: Usman Wanimbo Dikabarkan Mundur dari Partai Demokrat Papua

Melenggang bertamasya ke luar lapas. Berkomunikasi ke mana saja melalui telepon genggam. Dan, yang memanjakan, tidak semua terpidana kasus korupsi menjalani hukuman sesuai dengan vonis yang dijatuhkan.

Koruptor bisa bebas lebih cepat dari yang seharusnya karena mendapatkan obral remisi.

Ketika bebas, para koruptor tidak terancam jatuh miskin karena uang hasil korupsi telah terintegrasi dalam kapital berskala internasional dan bermetamorfosa sedemikian rupa untuk mengelabuhi penegak hukum melalui tindak pidana pencucian uang.

Penjatuhan pidana tambahan berupa uang pengganti juga tak membuat koruptor melarat karena eksekusi uang pengganti juga bisa dimainkan dan rawan dikorupsi.

ICW menyatakan eksekusi uang pengganti yang dibebankan kepada koruptor antara yang termuat dalam amar putusan kadang tidak sama dengan yang dibayarkan karena ada permainan.

Baca juga: Lukas Enembe Bela Rakyat Papua: Siap Perang dengan KPK dan Siap Dipecat Demokrat

"Quid leges sine moribus"

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved