Rabu, 22 April 2026

Budaya

Ritual Lompat Banteng di Ethiopia, Tanda Kesiapan Pria Menikah Empat Kali

Lompat banteng merupakan ritual kuno di barat daya Ethiopia yang membuktikan bahwa seorang pria siap untuk membangun keluarga sendiri.

Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Roy Ratumakin
intisari.grid.id
Ritual lompat banteng suku Hamer di Ethiopia. Empat kali pria bisa melompat banteng, maka dia dibolehkan menikahi wanita idamannya empat kali. 

Saat matahari terbenam mendekat, bocah lelaki itu bersiap-siap untuk hari terpenting dalam hidupnya.

Sesepuh dan pria yang telah melakukan ritual sebelumnya, tetapi belum menikah, mengumpulkan banteng yang dikebiri untuk upacara tradisional kedewasaan.

Sapi jantan diolesi dengan kotoran agar licin. Sebelum melompati ternak, biasanya anak laki-laki itu telanjang dan rambutnya dicukur sebagian.

Tubuhnya kemudian digosok dengan pasir untuk menghapus dosa-dosanya dan menyingkirkan nasib buruk dan diolesi dengan kotoran untuk memberinya kekuatan.

Sebagai bentuk perlindungan spiritual, potongan kulit kayu diikatkan ke tubuhnya.

Dengan suara bel dan klakson yang menggelegar di udara, anak laki-laki itu melompat.

Dia menginjak punggung masing-masing banteng sebelum melakukan lompatan terakhir kembali ke tanah.

Dengan menunjukkan kelincahan, keberanian, dan kekuatannya, anak muda itu menunjukkan bahwa dia cocok untuk menjadi seorang pria, melansir theculturetrip.

Jika dia berhasil melindas banteng itu dan kembali tanpa terjatuh empat kali, maka pemuda itu kemudian mewariskan gelar Maza; sebuah tonggak besar yang berarti ia siap menikahi wanita yang dipilihkan untuknya oleh ayahnya.

Laki-laki Hamer diperbolehkan menikah sebanyak empat istri, tetapi istri pertama selalu dipilih oleh ayah mereka setelah upacara ini.

Merupakan kebiasaan bagi ayah anak laki-laki untuk memberikan 30 ekor sapi kepada keluarga pengantin wanita sebagai mas kawin.

Jika kemungkinannya melawan dia dan dia jatuh lebih dari empat kali, maka anak laki-laki itu harus menunggu satu tahun lagi untuk mencoba sekali lagi.

Jika berhasil, maka suku memuji anak laki-laki itu karena menjadi laki-laki dengan menempatkan kulit binatang di lehernya, meniup tanduk, melompat dan bersorak.

Perayaan seorang anak laki-laki yang berubah menjadi seorang pria berlanjut hingga dini hari. (*)

Sumber: Tribun Papua
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved