Budaya
Ritual Lompat Banteng di Ethiopia, Tanda Kesiapan Pria Menikah Empat Kali
Lompat banteng merupakan ritual kuno di barat daya Ethiopia yang membuktikan bahwa seorang pria siap untuk membangun keluarga sendiri.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Roy Ratumakin
Tergantung pada keputusan ayah mereka, beberapa anak laki-laki melakukan lompat banteng termuda limat tahun dengan bantuan anggota masyarakat.
Baca juga: 30 Tahun Mengapdi Sebagai Guru, Nasriah: Budaya Kebersamaan di Papua Cukup Kental
Untuk menunjukkan bahwa dia telah memilih putranya untuk menjalani ritus peralihan ini, maka sang ayah memberi anak itu tongkat pendek yang disebut orang Hamer sebagai boko.
Dengan boko yang diberikan oleh sang ayah, anak laki-laki itu harus pergi ke semua rumah kerabatnya untuk memberi tahu mereka berita tersebut dan mengundang mereka ke ritual tersebut, perjalanan yang dilakukan itu bisa memakan waktu beberapa hari.
Keluarga dari anak laki-laki itu memutuskan kapan hari besar itu seharusnya, dan keputusan itu didasarkan pada jumlah waktu yang mereka perlukan untuk menyiapkan pesta.
Karena orang-orang Hamer tidak menggunakan kalender, maka anak laki-laki itu memberi setiap kerabat seutas tali yang ditandai dengan hati-hati untuk menunjukkan jumlah hari menjelang ritual.
Setiap hari, para kerabat memotong seutas tali untuk melacak berapa hari tersisa sebelum ritual.
Ketika hari besar yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, minuman beralkohol lokal disajikan kepada mereka yang datang untuk merayakannya.
Tergantung pada status sosial keluarga anak laki-laki itu, hampir 100 atau lebih dari 300 orang berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut.
Baca juga: Lakukan Aksi Peduli Kemanusiaan, Pegadaian Jayapura Sumbangi Posko Bencana Banjir di Youtefa
Wanita suku Hamer, mengenakan pakaian tradisional dan dihiasi dengan lonceng di sekitar kaki mereka, mulai menari bersama dan memainkan terompet dengan keras.
Ritual berubah ketika para wanita, untuk gadis-gadis muda tidak boleh mengikuti bagian ritual ini, mulai menunjukkan pengabdian dan dorongan mereka kepada anak laki-laki yang akan mengambil bagian dalam ritual lompat banteng.
Di sela menari, mereka mendekati ‘pria’ yang baru saja menjalani ritual, memohon agar mereka mencambuk punggung mereka dengan tongkat birch.
Baca juga: Perumahan Organda Jayapura Masih Direndam Banjir, Begini Kondisinya
Keluarga pihak ibu dari anak laki-laki mengenakan ikat pinggang manik-manik di pinggang mereka dan biasanya tidak diharapkan untuk mengambil bagian dalam ritual ini.
Setelah dicambuk berulang kali, para wanita menolak untuk mundur, malah bersaing satu sama lain.
Para wanita percaya bahwa semakin besar rasa sakit yang mereka alami, semakin tinggi tingkat kesetiaan yang mereka tunjukkan kepada anak laki-laki itu.
Bekas luka yang tertinggal di tubuh mereka adalah simbol kesetiaan yang berhak mereka terima darinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/08012022-lompat_sapi.jpg)