Budaya
Ukiran Khas Budaya Kamoro Dijual Hingga ke Pulau Jawa dan Bali
Suatu kebanggaan bahwa ukiran budaya khas Suku Kamoro di Kabupaten Mimika dijual hingga ke pulau Jawa dan Bali
Penulis: Marselinus Labu Lela | Editor: Maickel Karundeng
Laporan wartawan Tribun-Papua.com,Marselinus Labu Lela
TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA- Suatu kebanggaan bahwa ukiran budaya khas Suku Kamoro di Kabupaten Mimika dijual hingga ke pulau Jawa dan Bali.
Ukiran Kamoro seperti tifa, ukiran buaya, patung dan beberapa ukuriran lainnya kini dijual hingga keluar Timika seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung, Solo, Jogja, dan pulau Bali.
Baca juga: Ini Kelemahan Timor Leste yang Sudah Diketahui Shin Tae-yong
Sekadar diketahui, Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe yang diketuai oleh Herman Kiripi ini didirikan oleh seorang tenaga kesehatan bernama dr. Karmuler pada 1996.
Fonter Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Lulu Intarti menjelaskan pada saat itu dokter ini mengajukan ide kepada PT Freeport Indonesia untuk membuat suatu acara yaitu Festival Kamoro Kapuru di Gedung Emeneme Yauware, Timika, Papua untuk memberikan bantuan kepada seniman ukir Kamoro.
Fokus pertama saat itu di seniman ukir. Karena seni ukir pada tahun 1995 pihak Freeport sudah mulai memesan ukiran khas Kamoro di beberapa kelompok kecil.
Baca juga: Nasib Mahasiswa Terancam, KPK Diminta Segera Periksa Dana Otsus yang Dikelola BPSDM Papua
Inilah muncul ide dr. Karmuler untuk membuat Festival tersebut bertujuan untuk mendapatkan dua hal.
Pertama mempromosikan budaya Kamoro ini keluar dari Mimika dan kedua adalah merangkul semua seniman di wilayah pesisir agar berkumpul melakukan silahtuhrami dan bertukar pikiran pada saat itu.
Baca juga: Keluarga Korban : Ignas Mopoteryau Hilang Beberapa Hari Lalu
Lulu mengatakan, adanya festival budaya Kamoro saat itu diharapkan dapat dikenal publik, dan juga semangat para seniman yang tadinya sudah hilang tambah membara.
Sebelumnya, memang ukiran khas Kamoro sudah mulai hilang karena mereka buat ukir siapa yang akan beli dan dijual kemana. Warga bingung saat itu.
Baca juga: Beasiswa Tak Jelas, Yelipele: Kami Diusir dari Kelas, Dilarang Ikut Belajar
Lanjut dia, disitulah muncul pikiran bagaimana membuka pasar ini. Karena jika seniman ukiran memiliki pasar maka penjualan ukiran terus berjalan.
"Jadi festival Kamoro menjadi titik awal dan disaksikan oleh para tamu undangan Freeport karena pada saat itu mendapat apresiasi besar terkait kerajinan tangan suku Kamoro ini," kata Lulu Intarti kepada Tribun-Papua.com di Mimika, Rabu (26/1/2022).
Menurut dia, setelah festival Kamoro berakhir, muncul seniman semakin banyak. Lalu karya ukir ini tidak mungkin hanya setahun sekali digelar festival.
Lanjut dia, Sehingga muncul pasar lebih luas lagi di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Bali, Bandung, Jogja, dan Solo.
Baca juga: 290 Siswa Antusias Ikuti Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun
Hingga kini, menurut dia, pasar terbesar selain di Kabupaten Mimika, di Jakarta. Kini pasarnya sudah dibuka dan sudah mulai ada penghasilan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/penyerahan-penghargaan-1.jpg)