Selasa, 28 April 2026

Sosok

Elisabeth, Sosok Wanita Setia Pengiring Langkah Kaki Dokter Seribu Rupiah

Elisabeth dan Soedanto bertemu di Asmat pada 1976, berselang setahun kala Soedanto menapakkan kaki pertama kalinya pada 1975

Penulis: Calvin Louis Erari | Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa
Tribun-Papua.com/ Calvin
SOSOK- Elisabeth Tangkere (kanan) bersama suaminya Dokter Seribu Rupiah, Fransiskus Xaverius Soedanto, (kiri) saat dijumpai Tribun-Papua.com di rumahnya, Selasa (1/2/2022) 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – “Setiap pria sukses, pasti ada wanita hebat di sampingnya”

Ini menjadi ungkapan tepat disematkan dalam kisah 46 tahun Fransiskus Xaverius Soedanto, Dokter Seribu Rupiah melayani di Bumi Cenderawasih.

Bagaimana tidak, Soedanto memiliki Elisabeth Tangkere sebagai pendamping setianya.

Keduanya bertemu di Asmat pada 1976, berselang setahun kala Soedanto menapakkan kaki pertama kalinya pada 1975.

Baca juga: Kisah Husnan Perantau Senior Asal Madura: Saya Sudah 10 Gubernur Hidup di Papua

Elisabeth dengan setia menemani Soedanto masuk keluar hutan Asmat dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Soedanto yang tergolong orang baru dan masih buta peta Asmat, merasa aman saat didampingi Elisabeth.

Dari awal perkenalan pada 1976, lalu bekerja sama dalam pelayanan kesehatan, maka tak heran benih-benih cinta tumbuh di antara kedua insan ini.

Tak menunggu lama bagi Soedanto meminang Elisabeth.

Keduanya menikah pada 1979 di Asmat.

Baca juga: Kisah Soedanto Dokter Seribu Rupiah, 46 Tahun Mengabdi di Papua

Menariknya, setelah menikah, kasih setia Elisabeth mendampingi Soedanto justru makin kuat.

Bahkan, tak pernah sekalipun mengeluhkan pekerjaan kemanusiaan yang dilakukan belahan jiwanya itu.

"Kami menikah pada 1979 di Asmat. Setelah menikah, setiap hari saya dampingi bapa untuk melayani masyarakat sampai ke kampung-kampung," ungkap Elisabeth Tangkere kepada Tribun-Papua.com, Selasa (1/2/2022).

Dari satu kampung ke kampung lainnya, Soedanto bersama Elisabeth melayani masyarakat.

Hingga di suatu kampung, mereka bahkan pernah dimarahi warga di Asmat.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved