Rabu, 8 April 2026

Rusia vs Ukraina

Avril Haines: Rusia Remehkan Perlawanan Ukraina

Avril Haines, mengatakan Rusia meremehkan kekuatan perlawanan Ukraina sebelum meluncurkan invasinya.

Editor: Roy Ratumakin
AP PHOTO/MARIENKO ANDREW
Sebuah pengangkut personel lapis baja terbakar dan kendaraan utilitas ringan yang rusak ditinggalkan setelah pertempuran di Kharkiv, Ukraina, Minggu (27/2/2022). Pemerintah kota mengatakan bahwa pasukan Ukraina terlibat dalam pertempuran dengan pasukan Rusia yang memasuki kota terbesar kedua di negara itu pada Minggu. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Direktur Intelijen Nasional AS Avril Haines, mengatakan Rusia meremehkan kekuatan perlawanan Ukraina sebelum meluncurkan invasi yang kemungkinan telah menyebabkan ribuan korban dari pihak Moskwa.

Hal ini dikatakan Avril Haines di hadapan Anggota Parlemen Amerika Serikat pada Selasa (8/3/2022).

Kesaksian di dalam sidang di hadapan Komite Intelijen DPR ini merupakan penilaian publik pertama dari perang dua minggu oleh pejabat intelijen senior negara, yang menawarkan wawasan mereka tentang pemikiran dan motif Presiden Rusia Vladimir Putin saat pasukannya melanjutkan serangan ke Ukraina.

Baca juga: Presiden Ukraina Luluh: NATO Tidak Siap Menerima Kami

Para pejabat Intelijen Nasional AS menjelaskan bahwa serangan Rusia telah diperlambat oleh perlawanan tak terduga oleh para pembela Ukraina.

Mereka juga melaporkan bahwa sekarang tidak pasti apakah Putin akan melanjutkan serangan dengan strategi “maksimal” untuk mencoba merebut seluruh Ukraina atau akan menetapkan sesuatu kurang dari itu.

Prajurit Ukraina mencari peluru pasukan Rusia yang gagal meledak di Kiev, 26 Februari 2022.
Prajurit Ukraina mencari peluru pasukan Rusia yang gagal meledak di Kiev, 26 Februari 2022. (Sergei Supinsky/AFP)

Bagaimanapun, pejabat Intelijen Nasional AS mengatakan mereka yakin Putin bertekad untuk melanjutkan invasi ke depan meskipun meningkatnya korban, sanksi global, dan upaya oleh negara-negara Barat untuk mengisolasi Kremlin, termasuk larangan AS pada impor minyak Rusia.

“Kami menilai Putin merasa dirugikan karena Barat tidak memberinya penghormatan yang layak dan menganggap ini sebagai perang yang tidak bisa ia kalahkan," kata Avril Haines.

“Tetapi apa yang mungkin ingin dia (Putin) terima sebagai kemenangan dapat berubah seiring waktu mengingat biaya signifikan yang dia keluarkan,” jelas dia, dikutip dari Associated Press (AP).

Baca juga: NATO: Kami akan Pertahankan Setiap Inci Wilayah Sekutu, Perang Rusia-Ukraina Tak Boleh Menyebar

Para pejabat AS yang bersaksi pada hari Selasa, mencatat bahwa sebagian besar jalannya invasi Rusia ke Ukraina serupa dengan apa yang mereka perkirakan.

Misalnya, Direktur CIA William Burns, menyebut, Putin tidak dapat sepenuhnya mengepung Kota Kyiv dalam waktu singkat.

“Dia (Putin) yakin bahwa dia telah memodernisasi militernya dan mereka mampu meraih kemenangan cepat dan menentukan dengan biaya minimal. Dia, terbukti salah dalam segala hal,” kata Burns, seorang ahli Rusia dan mantan duta besar Rusia untuk Moskwa.

Baca juga: Presiden Ukraina: Semua Orang yang Mati di Ukraina Karena Ulah ‘NATO’

“Asumsi-asumsi itu telah terbukti sangat cacat selama 12 hari terakhir konflik,” ungkap dia.

Pada satu titik selama persidangan, Raja Krishnamoorthi, seorang Demokrat Illinois, mencatat bahwa banyak konstituennya berpikir Putin "gila" atau setidaknya bertindak seperti itu.

Krishnamoorthi bertanya kepada Burns bagaimana dia menilai kondisi mental pemimpin Rusia itu.

Burns menjawab bahwa dia menganggap pemimpin Rusia itu semakin terisolasi dan keras dalam pandangannya.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved