Nasional

Elisabeth : POP Rubah SD YPPK Bunda Maria Pikhe Kabupaten Jayawijaya

Elisabeth merasa kegiatan literasi yang diberikan oleh Wahana Visi Indonesia menjawab permasalahan yang ia hadapi sebagai guru kelas.

Editor: Musa Abubar
Dokumen kemendikbudristek
Suasana zoom terkait POP 

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menggelar seri webinar Sapa Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) III dengan tema Gotong Royong Memajukan Pendidikan Melalui Program Organisasi Penggerak (POP), Kamis (21/4) siang.

Kali ini, para narasumber menyampaikan kisah-kisah inspiratif baik dari para guru maupun pelaksana terkait pelaksanaan Program Organisasi Penggerak (POP).

Baca juga: Cara Cek Cek Penerima BSU atau Subsidi Gaji Rp 1 Juta Tahun 2022

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Iwan Syahril menegaskan, POP sejak awal digagas sebagai gerakan gotong-royong pendidikan.

Baca juga: Tak Berani Janjikan Medali Emas di SEA Games, Pelatih Timnas U23 Vietnam: Saya Usahakan yang Terbaik

“POP mewujudkan budaya dan semangat kolaborasi Merdeka Belajar antara pemerintah dan ormas secara masif melalui berbagai pelatihan dan pendampingan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas peserta didik,”kata Iwan dalam keterangannya di Jakarta, pada Jumat (23/4/2022) disadur dari kemdikbud.go.id.

Baca juga: Mafia Minyak Goreng Ditangkap, Ini Perintah KSAL: Tangkap Kegiatan Ekspor!

Salah satu kisah inspiratif dari Flora Elisabeth Luwunaung, seorang Guru SD YPPK Bunda Maria Pikhe, Kabupaten Jayawijaya, ProvinsiPapua.

Elisabeth yang mengikuti program dari Wahana Visi Indonesia itu mengaku merasa termotivasi dan berdampak baik bagi dirinya sebagai seorang guru.

Baca juga: Emak-emak, Jelang Idulfitri Harga Terigu dan Bawang Merah Naik

Elisabeth merasa kegiatan literasi yang diberikan oleh Wahana Visi Indonesia menjawab permasalahan yang ia hadapi sebagai guru kelas.

“Masalah yang saya hadapi di sekolah, mengenai anak didik yang datang dari latar belakang terbatas. Saya katakan terbatas, karena mereka dari keluarga yang betul-betul berbahasa ibu, sehingga kami terkendala dalam proses belajar-mengajar,”ujar Elisabeth.

Baca juga: Tambah Tiga Jenis Vaksin dalam Program Imunisasi Rutin, Ini Alasan Kemenkes

Namun setelah mendapatkan pelatihan melalui POP oleh Wahana Visi Indonesia, Elisabeth kembali ke sekolah dan mengumpulkan teman-teman dan melakukan sosialisasi.

"Saya berbagi pada guru-guru dari materi yang diberikan selama mengikuti POP terkait materi penggunaan bahasa ibu untuk perantara belajar siswa,"katanya.

Baca juga: Akhiri Jabatan Presiden di 2024, Pengusaha Asal Solo Sebut Jokowi Bakal Jadi Ketua Partai Politik?

Elisabeth menyebut dari pengalaman yang didapat melalui POP, ia kemudian menyadari bahwa bahasa ibu sangat penting sebagai sarana pendidikan.

“Kami rata-rata bukan berasal dari Kabupaten Jayawijaya, sehingga kami mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, dan satu solusi yang kami dapat menggunakan tutor sebaya dalam membantu mengajar,"ujarnya.

Baca juga: 4 Khasiat Cengkeh untuk Kesehatan, Tinggi Antioksidan hingga Bantu Kendalikan Gula Darah

"Beberapa bulan kami lakukan itu, kami melihat anak-anak didik kami ada kemajuan dalam membaca,”ujarnya.

Perubahan dan kemajuan yang terjadi pada murid-murid tersebut membuat Elisabeth senang dan memacu semangatnya sebagai seorang guru.

Baca juga: Berkat POP, Beberapa Daerah Sulit Termasuk Papua-Papua Barat Dapat Program Peningkatan Kompetensi

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved