Lukas Enembe Diperiksa KPK

Lukas Enembe Diminta Menghadap KPK Senin Depan, Bisa Berobat ke Singapura Asalkan Penuhi Ini

Ini merupakan panggilan kedua bagi Lukas Enembe, pasca-penetapan dirinya sebagai tersangka kasus suap dan gratifiksi senilai Rp 1 miliar.

Istimewa
Presiden Joko Widodo menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2015 kepada Gubernur Papua Lukas Enembe di Istana Negara, Jakarta, 8 Desember 2014. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Gubernur Papua Lukas Enembe diimbau hadir memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Jakarta pada Senin (26/9/2022).

Ini merupakan panggilan kedua bagi Lukas Enembe, pasca-penetapan dirinya sebagai tersangka kasus suap dan gratifiksi senilai Rp 1 miliar.

"KPK tentu berharap pihak dimaksud memenuhi panggilan pada 26 September 2022 di Gedung Merah Putih KPK, sesuai yang KPK telah sampaikan secara patut," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, Sabtu (24/9/2022).

KPK disebut akan mempertimbangkan permintaan Gubernur Papua Lukas Enembe untuk bisa melakukan pemeriksaan kesehatan di Singapura.

Baca juga: Tokoh Agama di Papua Bereaksi, Lukas Enembe Diminta Kooperatif Diperiksa KPK: Segera Serahkan Diri!

Hal ini sebagaimana permintaan kuasa hukum Lukas, Stefanus Roy Rening.

Dipertimbangkan

Stefanus diketahui datang ke Gedung Merah Putih KPK Jakarta bersama dengan dokter pribadi Enembe, Athonius Mote dan Juru Bicara Gubernur Papua, Muhammad Rifai Darus pada Jumat (23/9/2022) sore.

Hanya, Lembaga Antirasuah itu bakal mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan di luar negeri setelah Gubernur Papua itu dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh tim dokter KPK di Jakarta.

"Keinginan tersangka untuk berobat ke Singapura, kami pertimbangkan, namun tentu kami juga harus pastikan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap tersangka lebih dahulu ketika ia sudah sampai di Jakarta," ujar Ali Fikri.

Ali juga menyatakan, ketidakhadiran seorang tersangka karena alasan kesehatan perlu dibuktikan dengan dokumen resmi dari tenaga medis.

Dengan kata lain, tidak bisa hanya dengan menghadirkan seorang dokter pribadi maupun juru bicara untuk menjelaskan kondisi kesehatan seorang tersangka.

Sebab, menurut Ali, tim penyidik bakal terlebih dahulu menganalisis dokumen kesehatan yang resmi dikeluarkan oleh tenaga medis.

"Alasan ketidakhadiran tersangka karena kesehatan tentu juga harus disertai dokumen resmi dari tenaga medis supaya kami dapat analisis lebih lanjut," kata Ali.

Ali pun menegaskan bahwa KPK juga telah memiliki tenaga medis khusus dalam melakukan pemeriksaan baik terhadap saksi ataupun tersangka yang dipanggil KPK.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved