Minggu, 10 Mei 2026

Pasar Mama Papua

Pengurus Forum Pasar Mama Papua Periode 2025 - 2030 Target Benahi Kesenjagan

Secara real saya lihat di Pasar Pharaa Sentani, Youtefa, Hamadi, di Biak, Serui, yang menguasai hasil bumi oleh orang

Tayang:
Tribun-Papua.com/Putri Nurjanah Kurita
PEDAGANG MAMA PAPUA - Foto bersama pengurus baru Forum Pasar Mama Papua di Aula Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Buper, Waena, Kota Jayapura, Papua. Pengurus baru periode 2025 – 2030 ini dilantik pada Senin (6/10/2025). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Forum Pasar Mama Papua melantik pengurus baru periode 2025 - 2030 di Aula Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Buper, Waena, Kota Jayapura, pada Senin (6/10/2025).

Pelantikan dilakukan oleh pembina forum, Pendeta Ruth Marweri dan Yesaya Samberi disaksikan puluhan pedagang pasar. Pelantikan ditandai dengan penandatangan Surat Keputusan pengurus (SK). 

Baca juga: Punya Harga Sama, Cek Perbandingan Spek HP Xiaomi 15T dengan POCO F7 Pro

Adapun rangkaian kegiatan itu, digelar seminar perencanaan ekonomi serta pemberdayaan ekonomi pasar Mama Papua.

Penasehat Pasar Mama Papua, Marthinus Kambuaya mengatakan, Forum Pasar Mama Papua dibentuk untuk menghimpun Mama-Mama Papua yang berdagang di pasar di Tanah Papua.

Baca juga: Kehadiran Bupati Biak pada Festival Kue Bulan Memotivasi Warga Tionghoa Lestarikan Budaya

Marthinus mengatakan, saat ini bukan saja sumber saya alam yang dinikmati oleh orang dari luar Papua tetapi perekonomian di Papua juga direbut, diambil alih dan dikuasai, terutama di pasar-pasar.

"Secara real saya lihat di Pasar Pharaa Sentani, Youtefa, Hamadi, di Biak, Serui, yang menguasai hasil bumi oleh orang nusantara, pertanyaannya orang Papua ada di mana? sehingga ekonomi kita direbut, akhirnya kita lihat Mama Papua jual pinang, hasil kebun [dijual] di alas daun pisang," ujarnya.

Baca juga: Persipura Tundukkan Tuan Rumah Persela Lamongan 1-2, Gol Kelly Sroyer Antiklimaks Bagi Aji Santoso

Kondisi ini memprihatinkan, sehingga forum ini digagas untuk mengangkat, mama atau laki-laki orang Papua supaya mampu secara ekonomi untuk mensejahterakan anak-anak Papua. Forum ini juga hadir untuk membenahi dapur keluarga supaya tidak ada anak putus sekolah.

"Ini yang kita benahi," ujarnya.

Ketua Terpilih Forum Pasar Mama Papua, Pendeta Maryam Kaliele, mengatakan forum terbentuk sejak 2022, namun tahun ini baru diadakan pelantikan pengurus.

Baca juga: Berantas Buta Numerasi, Metode Gasing Yohanes Surya Wajib Diterapkan 6 Provinsi se-Tanah Papua

Sebagai ketua terpilih, rencana program adalah mendorong peraturan daerah untuk mengembalikan hak ekonomi Mama Papua yang hari ini tak berdaya oleh persaingan di pasar-pasar. Kemudian mendorong Pasar Mama Papua yang ada di Kota Jayapura dijadikan pasar tradisional.

"Kami bekerja keras supaya mendorong Perda ini supaya hak-hak ekonomi Mama Papua dikembalikan. Tidak berdaya, karena jualan lokal seperti menjual pinang dan sagu, tidak lagi orang Papua yang jual," ujar Maryam.

Baca juga: Persipura Jayapura vs Persela Lamongan, Dilema Osvaldo Haay dan Dutra Menjamu Sang Mantan

Maryam menilai, terjadi kesenjangan antar pedagang orang asli Papua (OAP) dan non OAP dari jumlah pedagang sayur yang berjualan menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, pertokoan, retail minimarket, kian menjamur, mempengaruhi daya saing. Karena itu, terkadang jika dagangan tak laku pedagang pasar Mama-Mama Papua harus membawa pulang barangan dagangannya.

"Ruko-ruko yang ada buat mereka tidak berdaya. Posisi mereka berjualan [seperti] mereka tidak punya ruang, ketika kami melihat berjualan, panas, debu, kita harus dukung tempat jualan yang layak bagi mereka," ujarnya.

Baca juga: Dinas Kesehatan Biak Tegaskan Pentingnya Higienitas dalam Program Makan Bergizi Gratisw

Maryam menyebut, kendala lain yakni pada transportasi dan produksi. Pedagang lain, langsung menjemput hasil di kebun-kebun petani, sementara pedagang Mama Papua, membutuhkan anggaran lebih untuk mengangkut barang dagangan dari kebunnya ke pasar.

"Mereka bawa jualan dengan ojek, misalnya bayar Rp30 ribu, atau Rp50 ribu, sampai di pasar belum tentu harga [pengeluaran] itu kembali dengan cepat. Kami kalah di produksi. Kami [akan] coba membangun satu kondisi yang jemput mereka sehingga jangan sampai ketinggalan supaya nanti bisa menampung dan produksi juga," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved