Lukas Enembe Diperiksa KPK

Kondisi Lukas Enembe, Aloysius Renwarin: Harus Dipapah, dan Terbata-bata Kalau Berbicara!

Bahkan, untuk aktivitas sehari-hari, Lukas Enembe hanya bisa berjalan dari tempat tidur ke meja makan saja, yang berjarak 10 meter.

Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Komnas HAM RI Ahmad Taufan Damanik melihat langsung kondisi Gubernur Lukas Enembe di Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Kondisi kesehatan Gubernur Papua Lukas Enembe, menurut pengacaranya Aloysius Renwarin masih kurang memungkinkan untuk penuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Diketahui, KPK telah memanggil Lukas Enembe sebagai tersangka dalam kasus suap dan gratifikasi namun yang bersangkutan tak bisa hadir.

Bahkan, untuk aktivitas sehari-hari, Lukas Enembe hanya bisa berjalan dari tempat tidur ke meja makan saja, yang berjarak 10 meter.

Baca juga: Pengacara Lukas Enembe: KPK Bakal ke Jayapura Papua Cek Kesehatan Gubernur!

“Itupun harus dipapah dan tertatih tatih,” kata Aloysius Renwarin belum lama ini di Jayapura.

“Saat ini, kondisi Pak Gubernur benar-benar dalam kondisi sakit parah,” sambungnya.

 

 

Untuk sekadar berbicara, kata Aloysius, kliennya masih mengucapkan kata-kata dengan terbata bata.

“Berbicara masih sulit, tangan gemetar dan duduk atau berdiri terlalu lama, masih mengeluh sakit,” kata ujarnya.

Kondisi dari Lukas Enembe, menurut Aloysius terus menurun, disebabkan karena Lukas telah terkena empat kali stroke parah.

Belum lagi, yang bersangkutan telah menjalani operasi ginjal dan operasi jantung.

Baca juga: Tim Dokter Lukas Enembe Menghadapi KPK Hari Ini, Sejumlah Hal Diungkap!

“Memang selama ini, Pak Gubernur rutin menjalani pengobatan di Rumah Sakit Singapura, dan setiap enam bulan harus melakukan kontrol ke rumah sakit,” ungkapnya.

Sebelumnya, lembaga antirasuah melalui Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri mengatakan, pihak Gubernur Papua Lukas Enembe, merupakan pihak yang paling dirugikan, bila tidak hadir secara langsung, memberikan keterangan dalam penyidikan kasus dugaan suap dan gratifikasi APBD Provinsi Papua.

“Sesungguhnya ketika tersangka LE ataupun PH-nya tidak hadir menerangkan langsung di hadapan penyidik adalah rugi. Kenapa Karena sekali lagi, dia sudah diberikan ruang dan tempat tapi tidak menggunakan kesempatan itu,” kata Ali. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved