Kongres Masyarakat Adat
Kongres Masyarakat Adat Nusantara Tunjukkan Warna Baru di Papua
Pelaksanaan KMAN VI di Papua sejak awal ingin mempersembahkan masyarakat di Papua ada untuk Indonesia dan dunia.
Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: Roy Ratumakin
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi melihat kehidupan Masyarakat Adat di Papua jadi insipirasi di dunia sehingga muncul warna baru saat Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI.
Menurutnya, pelaksanaan KMAN VI di Papua sejak awal ingin mempersembahkan masyarakat di Papua ada untuk Indonesia dan dunia.
Seluruh Masyarakat Adat yang datang diharapakan melihat yang terjadi di Wilayah Adat Tabi dalam 10 tahun terkahir.
Baca juga: Presiden dan Ketua DPR Tidak Hadir, Abdon Nababan: Berpotensi Pengaruhi Keputusan saat KMAN VI
"Papua ketika bicara esensi utama adalah keberagaman. Terkadang ada banyak persepsi miring, ini saatnya kita menunjukkan warna Papua yang sesungguhnya," kata Rukka di Media Center KMAN, Stadion Barnabas Youwe (SBY), Sentani, Minggu (23/10/2022).
Rangkaian kegiatan kongres di 12 kampung di wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura, lebih tepatnya di pulau-pulau dan kampung-kampung di Danau Sentani, menurutnya dapat direfleksikan dalam bentuk kepulauan di seluruh Nusantara.
Rukka memastikan Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar dan pejabat lain akan hadir dan melakukan dialog untuk mendudukkan posisi Masyarakat Adat dan negara.
Secara khusus pemenuhan dan perlindungan hak Masyarakat Adat yang saat ini berhenti di konstitusi.
"Besok di pembukaan akan lakukan berbagai acara termasuk jalin kerangka kerja sama dengan lembaga negara dengan seluruh elemen yang ada urusannya dengan Masyarakat Adat untuk berdialog dan mencari solusi," jelasnya.
Sekjen AMAN itu juga menegaskan dengan segala keterbatasan KMAN VI di Papua telah terlaksana, lancar dan tidak ada hambatan. Pukul 14.00 WIT sekitar 1.300 peserta yang sudah tercatat dan akan terus berdatangan hingga besok dan lusa dini hari.
Baca juga: AMAN Kaltim Perjuangan Isu Perlindungan Masyarakat Adat di KMAN VI
Selain Masyarakat Adat dan organisasi adat yang ada di Nusantara hadir juga Organisasi Masyarakat Adat di Asia yaitu, Wakil Sekertaris The Asia Indigenous Peoples Pact Foundation (JAIPF).
JAIPF sendiri, kata Rukka, merupakan Organisasi regional ditingkat Asia yang anggotanya ada di 17 negara Asia, terdiri dari organisasi Masyarakat Adat termasuk AMAN. Kemudian Sekjen Masyarakat Adat di Nepal, Sekjen Malaysia, Kamboja, dan Philippina.
Elemen pendukung Masyarakat Adat, lanjutnya, dari pendonor dan LSM lokal, nasional hingga internasional yang selama ini sudah bekerja bersama Masyarakat Adat.
Lebih lanjut, dukungan dari LSM, organisasi, dan pendonor hadir untuk bersinergi dengan melihat kenyataan bahwa banyak Masyarakat Adat yang masih belum mendapat haknya.
"Tidak seperti di Kabupaten Jayapura, bupati satu diantaranya yang memperjuangkan hak Masyarakat Adat,"katanya.
Rukka menyebutkan KMAN ada karena seluruh elemen yang ada, juga pemerintah datang bersama, berkumpul, berdialog untuk membicarakan masalah penting terkait Masyarakat Adat guna menentukan pekerjaan startegis yang harus di kerjakan AMAN lima tahun kedepan. (*)