Catatan Piala Dunia 2022

Catatan Piala Dunia 2022: Jalan Terjal Menuju Puncak Klasemen

Piala Dunia 2022, Van Gaal kembali menangani skuad Orange. Ia optimistis bahwa Belanda cukup bagus untuk memenangkan Piala

Editor: M Choiruman
Istimewa
Willy Kumurur, penikmat bola 

Tatkala Belanda mencapai final di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, dunia bola merasa yakin, bahwa inilah saat bagi The Orange untuk meraih tropi pertama sebagai juara dunia, juara dengan mahkota.

Seluruh dunia terhentak dan terpukau dengan gaya permainan Johan Cruyff, Johan Neskens, Ruud Krool, Jan Jongbloed di Piala Dunia 1974 yang digelar di Jerman Barat. Di bawah pimpinan pelatih top mereka, Rinus Michels, Belanda tampil trengginas sejak babak awal.

Baca juga: Piala Dunia 2022: Tunda Perayaan, Fans Jepang Memilih Bersih-bersih di Stadion

Sebuah filosofi baru sepakbola dunia lahir dari tangan Michels, total football; sebuah sistem dan gaya permainan yang tak hanya menyihir dunia saat itu, namun melegenda sampai saat ini.

Postulat Michels tentang sistem total football yang selalu diinjeksikan ke jantung pasukannya, adalah: “Jangan tebas musuhmu dengan pedang jika kalian bisa menggilasnya dengan tank!!!” Dan setiap lawan yang digilas oleh De Oranje “menikmati kematiannya” dengan indah.

Dengan aksioma itulah, Belanda berangkat ke final menghadapi Jerman Barat yang dilatih oleh Helmut Schoen dengan jenderal lapangannya yang elegan, Franz Beckenbauer.

Kita kemudian tahu, bahwa Jerman Barat-lah yang meraih Piala Dunia 1974, menaklukkan Belanda dan total football.

Namun akibat sistem dan keindahan permainan Belanda, dunia bola mengakui bahwa Belanda-lah juaranya: juara tanpa mahkota.

Tanpa Rinus Michels dan Johan Cruyff, Belanda perkasa memasuki final Piala Dunia 1978 menghadapi tuan rumah Argentina. Lagi-lagi pasukan orange takluk.

Baca juga: Piala Dunia 2022 dan Panggung Ketidakpastian

Pencinta keindahan bersedih, sambil bertanya-tanya, “Mestikah keindahan itu kalah dan selalu menjadi pecundang?”

Lama setelah itu Belanda kehilangan tajinya, dan kemudian era keemasannya kembali di tahun 2010, saat Tim Oranye tampil di final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Lawannya adalah Spanyol, yang mengadopsi gaya permainan Belanda.

Ketika melatih FC Barcelona, Johan Cruyff memodifikasi sistem total football menjadi tiki-taka, sebuah gaya yang menghentar Barcelona merajai pentas Eropa dan dunia selama bertahun-tahun.

Baca juga: Dukung Brasil di Piala Dunia Qatar 2022, Bupati Jayapura: Mereka Pasti Juara!

Pelatih Spanyol Vicente del Bosque, yang memasang 7 pemain Barcelona di skuadnya, memainkan Jabulani, bola resmi Piala Dunia 2010 dengan konsep tiki-taka.

Sampai menit ke-86, skor masih tetap imbang 0-0. Namun Andres Iniesta, jenderal lapangan tengah El Barca, memupus impian tim asuhan Bert van Marwijk. La Furia Roja lah yang meraih tropi bergengsi itu. Koran-koran di Belanda memasang headline: Derde Trauma (trauma ketiga).

Di Piala Dunia 2014, Van Gaal mendapat kritik pedas dari Johan Cruyff karena van Gaal dianggap mengkhianati filosofi bola Belanda dengan meninggalkan total football.

Baca juga: Argentina vs Arab Saudi: Debut Lionel Messi Cetak Gol Perdana di Piala Dunia 2022

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved