Catatan Piala Dunia 2022

Catatan Piala Dunia 2022: Mission Impossible

Setelah penantian panjang selama 64 tahun, Wales kembali lolos ke Piala Dunia untuk yang kedua kalinya

Editor: M Choiruman
Istimewa
Willy Kumurur, penikmat bola 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Jika sesuatu layak dilakukan, itu layak dilakukan dengan baik. Jika sesuatu itu berharga, maka layak untuk ditunggu. Jika layak untuk diraih, maka layak untuk diperjuangkan. Jika sesuatu itu layak untuk dialami, maka sisihkan waktu untuk itu.

Demikian tulis penyair Irlandia, Oscar Wilde. Itulah yang dilakukan Wales. Mereka tampil perdana di Piala Dunia FIFA pada edisi Piala Dunia 1958 di Swedia.

Baca juga: Catatan Piala Dunia 2022: Bukan Impian Semusim

Setelah itu mereka tak lagi sanggup lolos dari babak kualifikasi selama puluhan tahun. Mereka terus merindukan untuk bisa hadir di pentas Piala Dunia. Tetapi kerinduan tetap kerinduan.

Berpuluh-puluh tahun Wales tak sanggup menembus ketatnya persaingan untuk sampai ke panggung Piala Dunia. Merekapun hidup dari rindu ke rindu; dan rindu itu laksana belantara tanpa ujung.

Namun pada akhirnya, setelah penantian panjang selama 64 tahun, Wales kembali lolos ke Piala Dunia untuk yang kedua kalinya. Semua datang pada waktunya bagi dia yang tahu bagaimana menunggu, tutur penulis mashyur Rusia, Leo Tolstoy.

"Untuk berada di salah satu panggung olahraga terbesar di dunia sangatlah penting bagi Wales yang berpenduduk 3 juta orang. Kami telah menunggu selama 64 tahun," kata Menteri Pertama dan Pemimpin Buruh Wales, Mark Drakeford, pejabat politik terkemuka di negara tersebut, sebagaimana diberitakan oleh harian The Washington Post.

Mendiang sejarawan Inggris Eric Hobsbawm pernah mengungkapkan betapa pentingnya turnamen sepak bola besar seperti Piala Dunia.

Baca juga: Catatan Piala Dunia 2022: Menanti Oase di Tengah Gurun Derita

“Apa yang membuat sepak bola begitu efektif sebagai media untuk menanamkan nasionalisme?” tanyanya dalam buku karyanya tahun 1992 Nations and Nationalism.

Ia menjawab pertanyaannya sendiri, “….. adalah bahwa jutaan komunitas yang dibayangkan nampak lebih nyata dalam tim yang meliputi sebelas orang yang nama-namanya disebutkan.”

Lebih dari olahraga lainnya, sepak bola adalah permainan global dan dengan demikian menjadi tumpuan semua jenis simbolisme politik dan mitos.

Baca juga: Catatan Piala Dunia 2022: Jalan Terjal Menuju Puncak Klasemen

Para pemain yang membentuk skuad suatu negara selalu berasal dari berbagai lapisan masyarakat, seringkali muncul dari latar belakang yang lebih miskin dan sulit untuk memenangkan ketenaran dan kekayaan global.

Bagi jutaan orang yang tak terhitung jumlahnya yang menyemangati mereka, mereka memikul beban yang berat. "sebelas orang yang bernama" ini mewujudkan kerinduan suatu bangsa akan prestise dan kecemasan atas kegagalan.

Inggris berkali-kali menguasai Wales dalam pertempuran di medan perang. Rakyat Wales masih ingat ujaran Pangeran Wales, Cadwallader, yang diucapkan kepada Henry II, Raja Inggris di ujung abad ke-11.

Baca juga: Klasemen Piala Dunia 2022: Brasil Masih Sempurna Tanpa Kebobolan!

”Bangsa ini, ya Raja, saat ini, seperti juga di masa lalu, dapat diusik dan, lebih dari itu dilemahkan dan dihancurkan olehmu dan oleh kekuatan lain; dan bangsa ini akan sering menang karena usaha keras yang patut dipuji.

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved