Rabu, 22 April 2026

Gerhana Matahari

Ini Jam dan Durasi Gerhana Matahari di Kota Jayapura

Gerhana Matahari hibrida merupakan kombinasi antara gerhana Matahari total dan gerhana Mahatahari cincin dalam garis waktu yang sama.

Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Istimewa
Fenomena gerhana Matahari hibrida akan menyapa sejumlah wilayah Indonesia hari ini, Kamis (20/4/2023). 

26. Mamuju (Durasi 3 jam 01 menit)

  • Awal Sebagian: 10.47 WITA
  • Puncak Gerhana: 12.16 WITA
  • Akhir Sebagian: 13.47 WITA

27. Makassar (Durasi 3 jam 04 menit)

  • Awal Sebagian: 10.41 WITA
  • Puncak Gerhana: 12.12 WITA
  • Akhir Sebagian: 13.45 WITA

28. Kendari (Durasi 3 jam 06 menit)

  • Awal Sebagian: 10.48 WITA
  • Puncak Gerhana: 12.21 WITA
  • Akhir Sebagian: 13.55 WITA

29. Sofifi (Durasi 3 jam 05 menit)

  • Awal Sebagian: 12.07 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.42 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.13 WIT

30. Ambon (Durasi 3 jam 09 menit)

  • Awal Sebagian: 11.58 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.34 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.08 WIT

31. Sorong (Durasi 3 jam 08 menit)

  • Awal Sebagian: 12.10 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.47 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.18 WIT

32. Manokwari (Durasi 3 jam 07 menit)

  • Awal Sebagian: 12.16 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.53 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.23 WIT

33. Jayapura (Durasi 3 jam 01 menit)

  • Awal Sebagian: 12.29 WIT
  • Puncak Gerhana: 14.04 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.30 WIT

34. Nabire (Durasi 3 jam 07 menit)

  • Awal Sebagian: 12.14 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.51 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.21 WIT

35. Wamena (Durasi 3 jam 04 menit)

  • Awal Sebagian: 12.22 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.58 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.25 WIT

36. Merauke (Durasi 3 jam 00 menit)

  • Awal Sebagian: 12.19 WIT
  • Puncak Gerhana: 13.53 WIT
  • Akhir Sebagian: 15.19 WIT

 

Terjadinya gerhana Matahari hibrida

Sayangnya, gerhana Matahari sebagian itu tidak bisa dilihat di Provinsi Aceh, khususnya di daerah Sabang, Banda Aceh, Aceh Jaya, Aceh Besar, dan Pidi.

Diberitakan Kompas.com, Jumat (24/3/2023), Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang mengatakan gerhana Matahari hibrida terjadi karena konfigurasi Matahari, Bulan, dan Bumi membentuk satu garis lurus.

Hal ini membuat bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi. Daerah di Bumi yang berada di bawah bayangan inti (umbra) Bulan akan mengalami gerhana Matahari total, sementara daerah di Bumi yang berada di bawah penumbra akan mengalami gerhana Matahari sebagian. (*)

Sumber: Tribun Papua
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved