Jumat, 10 April 2026

Krisis Moneter, Kerusuhan Mei 1998, dan Lengsernya Soeharto setelah 32 Tahun Menjabat

Kerusuhan Mei 1998 diawali oleh krisis moneter dan mengakibatkan lengsernya Soeharto setelah 32 tahun menjabat sebagai Presiden RI.

(Kompas/Arbein Rambey)
Kerusuhan massa yang diwarnai aksi perusakan dan pembakaran bangunan dan kendaraan bermotor melanda Jakarta, Rabu (13/5/1998). Kerusuhan bermula dari kawasan di sekitar Kampus Trisakti, Jalan Daan Mogot, Jalan Kyai Tapa, Jalan S Parman. Menjelang sore aksi perusakan dan pembakaran meluas ke kawasan Bendungan Hilir, Kedoya, Jembatan Besi, Bandengan Selatan, Tubagus Angke, Semanan, Kosambi. Perusakan dan pembakaran tak terhindarkan, sehingga langit Jakarta menjadi kelabu penuh asap. 

TRIBUN-PAPUA.COMKerusuhan Mei 1998 menjadi satu di antara masa kelam dalam sejarah Indonesia.

Penyebab terjadinya kerusuhan Mei 1998 diawali oleh krisis finansial Asia pada tahun 1997.

Krisis moneter yang berkepanjangan menurunkan nilai rupiah pada 1997, berkembang menjadi krisis ekonomi lebih parah di Indonesia.

Berkembangnya krisis moneter menjadi krisis ekonomi tersebut, kemudian melahirkan krisis lain, yaitu krisis sosial dan krisis politik.

Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 kemudian mengakibatkan turunnya Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia.

Baca juga: Masuknya Freeport ke RI: Ditolak Soekarno dan Gerak Cepat Soeharto Beri Izin Menambang di Papua

MAHASISWA menduduki gedung MPR/DPR, menuntut Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden, pada Mei 1998.
MAHASISWA menduduki gedung MPR/DPR, menuntut Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden, pada Mei 1998. (Kompas/Eddy Hasby)

Krisis Ekonomi

Ekonomi Indonesia jika ditinjau sejak 1966 hingga 1996, menunjukkan tren kenaikan ekonomi yang positif.

Pada 1966, pemerintah Indonesia bahkan dapat menekan angka kemiskinan yang semulanya sebesar 60 persen menjadi 11 persen.

Hal ini juga dibuktikan dengan masuknya nama Indonesia bersama dua negara Asia Tenggara lainnya, dalam New Industrialized Economies (NIEs) yang dirilis Bank Dunia pada 1993.

Namun, stabilitas ekonomi Indonesia mulai goyah pada 1997, tatkala pemerintah tidak mampu mengendalikan krisis moneter yang melanda Asia Timur dan Asia Tenggara.

Krisis moneter pada mulanya telah lebih dulu menyerang negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara, yaitu Thailand pada 1996.

Di Indonesia, krisis moneter mulai tercium pada kisaran 1997. Krisis ini kian membesar menjadi krisis ekonomi nasional hingga sepanjang 1998.

Pada 1998, nilai tukar rupiah mengalami depresi akut mencapai angka 70 persen.

Nilai tukar rupiah pada pertengahan bulan Juli 1998, berada di angka Rp 14.700 per 1 dolar US.

Nilai tukar rupiah yang terjun bebas ini mengakibatkan inflasi tinggi di Indonesia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved