PON XXI Aceh dan Sumut
PON XXI Aceh, Pesta Olahraga Rasa Bencana
Situasi cukup mencekam bagi sejumlah tamu PON 2024 di sekitar Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, mulai dari atlet hingga awak media.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
KOTA Banda Aceh yang sedang menyelenggarakan Pekan Olaharaga Nasional (PON) XXI 2024, dilanda hujan ekstrem dua hari terakhir.
Para pengunjung serasa melihat bencana alam benar-benar nyata di depan mata.
Panitia penyelengara PON XXI dianggap tidak siap mengantisipasi hal ini jauh hari.
Malapetaka pun terjadi pada Selasa (18/9/2024), setelah hujan tiada henti sejak pukul 03.00 hingga 21.00 WIB.
Situasi cukup mencekam bagi sejumlah tamu PON 2024 di sekitar Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, mulai dari atlet hingga awak media.
Langit lekas memutih karena guyuran air yang turun begitu cepat ditambah efek embusan angin kencang, tatkala hujan badai itu tiba.
Saking kencangnya, embusan angin pun mengeluarkan suara nyaring bak bunyi trompet.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kelas I Sultan Iskandar Muda Aceh menyebutkan, debit hujan hari itu mencapai 156 militer per jam atau tergolong curah hujan ekstrem.
Baca juga: HEBOH Dugaan Korupsi Dana PON XXI Aceh dan Sumut, Begini Reaksi Mabes Polri
Sebaliknya, kecepatan menyentuh angka maksimal 25-30 knot atau 55 kilometer per jam, naik dari rata-rata 10 knot.
Alam yang seolah sedang mengamuk itu sontak memporak-porandakan sejumlah arena pertandingan.
Lapangan Tembak Rindam Kodam Iskandar Muda di Mata Ie, Aceh Besar, misalnya.
Arena itu sempat kebanjiran di lokasi perlombaan 50 meter dan mengalami kerusakan berupa talang air ambrol di lokasi perlombaan 10 meter pada Rabu pagi.
”Kemarin, suasananya horor. Saya pikir bangunan lapangan tembak akan roboh. Sampai sekarang, saya masih waswas saat turun hujan deras disertai angin kencang," ujar penembak running target dari tim Papua, Muhammad Chuwaizam, yang nyaris jadi korban saat talang air ambrol, ketika dijumpai, Rabu (18/9/2024).
"Apalagi, pasca terjadi tsunami 2004, Aceh terkenal sebagai daerah rawan bencana. Ini pengalaman pertama saya mengalami bencana di tengah lomba.”
Walau tidak separah hari sebelumnya, hujan badai turut melumat Lapangan Panahan, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Rabu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/BENCANA-Sejumlah-perlengkapan-pertanding.jpg)