PON XXI Aceh dan Sumut
PON XXI Aceh, Pesta Olahraga Rasa Bencana
Situasi cukup mencekam bagi sejumlah tamu PON 2024 di sekitar Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, mulai dari atlet hingga awak media.
Penulis: Paul Manahara Tambunan | Editor: Paul Manahara Tambunan
Selain sejumlah tenda tempat tim peserta bertumbangan, bencana itu pun menyebabkan pendingin udara berjatuhan, kursi terlempar ke mana-mana, pagar pembatas turut bergeser ke mana-mana, hingga tiang bendera pelengkap upacara pengalungan medali panahan roboh.
Dampak situasi yang tidak diinginkan itu, sejumlah laga ataupun lompa akhirnya ditunda hingga alam kembali bersahabat, terutama untuk panahan.
Meski berdampak terhadap kesiapannya, mau tidak mau atlet harus menerima kenyataan tersebut.
”Padahal, kami sudah pemanasan dan siap untuk berlomba. Karena lomba ditunda, mau tidak mau kami harus pemanasan lagi. Kami juga mesti menyiapkan fisik yang lebih kuat karena lomba kemungkinan dilanjutkan dengan jadwal yang lebih padat,” kata pemanah divisi nasional asal Kalimantan Utara, Dzakira Aulia Puteri.
Apa yang terjadi di Banda Aceh dan Aceh Besar dua hari terakhir tiba-tiba membawa Kompasdejavu dengan tugas meliput SEA Games Filipina 2019.
Saat itu, baru saja SEA Games dibuka di kota Manila, Filipina, pada 30 November 2019, otoritas terkait dan panitia SEA Games dengan sigap mengingatkan semua tamu pesta olahraga Asia Tenggara, mulai dari atlet hingga awak media, bersiap menghadapi efek ekor topan Kammuri yang diprediksi tiba dalam dua-tiga hari ke depan.
Perkiraan itu ternyata tepat. Pada 3 Desember 2019 ekor topan Kammuri melintasi bagian utara Filipina, termasuk kota Subic, kawasan di pesisir barat Filipina yang berjarak 130-an kilometer dari Manila.
Karena diwanti-wanti lebih dahulu, semua atlet yang berlaga di arena luar ruangan (outdoor) sudah mengamankan diri dengan berdiam di penginapan masing-masing.
Adapun semua perlengkapan di arena luar ruangan telah disimpan baik-baik oleh panitia agar tidak mengalami kerusakan saat dilanda topan Kammuri.
Di sisi lain, arena-arena luar ruangan dibangun dengan spesifikasi standar internasional, tak kecuali ketahanan terhadap bencana topan.
Dampaknya, nyaris tidak ada kabar mengenai dampak bencana yang menimbulkan kerusakan parah di arena ataupun hampir memakan korban atlet.
Berkat kesigapan otoritas terkait dan panitia, awak media pun bisa lekas mengubah rencana kerja dengan fokus meliput laga ataupun lomba di arena dalam ruangan (indoor).
Lagi-lagi, karena spesifikasi bangunan yang sudah terjamin, tidak ada pula temuan media mengenai arena yang mengalami kebanjiran, atap bocor, ataupun talang air ambrol.
Baca juga: Perenang Farrel Tangkas Persembahkan Medali Emas untuk Papua di PON XXI Sumut
Sementara itu, di Aceh, panitia PON 2024 seperti gagap. Hujan badai yang bukan barang baru di Aceh terlebih memasuki bulan ”-ber” alias jelang pengujung tahun, itu seolah tidak pernah terprediksi.
Dampaknya, saat bencana tiba, panitia tidak siap. Arena menjadi porak-poranda begitu saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/BENCANA-Sejumlah-perlengkapan-pertanding.jpg)