Sosok
Kisah Melkias Wali, Mengajar Anak Papua di Batas Negara: 'Pemerintah Tolong Perhatikan Nasib Kami'
Pak Guru Melkias Wali konsisten mendedikasikan diri setiap hari untuk mengajar para anak didik di pedalaman Papua, tanpa gaji yang sebanding.
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Paul Manahara Tambunan
Meski begitu, ia tetap merelakan diri untuk mengajar.
“Saya tidak tahu kenapa tidak lolos, tapi yang pasti ada yang tidak beres,” katanya.
Ia memulai mengajar di Ubrub sejak 2014. Lalu sempat kuliah tahun 2024.

Sayangnya, karena keterbatasan biaya, Melki harus kembali ke kampung untuk mengajar.
Ia kembali terpanggil mengajar setelah melihat minimnya fasiltas sekolah hingga tenaga pendidik.
"Sekarang saya tes yang keenam. Sudah dalam proses pemberkasan, tetapi tidak tahu hasilnya bagaimana," ujarnya.
Menurut Melki, ada tiga guru berstatus PNS di sekolah, tempatnya mengajar. Tiga oranglainnya guru bantu.
"Tetapi yang mengajar di sini hanya saya sendiri. Kalau kawan guru lainnya ada kendala, sehingga saya mengajar sendiri," bebernya.
Ia mengajar murid pada enam kelas. "Saya utamakan baca tulis dan berhitung, mata pelajaran yang lain kami hanya sesuaikan saja. Terpenting tahu baca dan tulis."
Melki mengaku hanya mendapat upah mengajar sekali dalam tiga bulan.
"Kadang dihitung per semester," ungkapnya.
Melki bersama guru honorer lainnya sangat membutuhkan fasilitas sekolah yang layak.
Sekolah Dasar, sebagai pondasi pendidikan, lanjut Melki, harus mendapat perhatian serius dari pemerintah Kabupaten Keerom.
Ia juga menganjurkan dinas terkait turun ke lapangan, guna memastikan kehadiran guru serta kondisi aktivitas pendidikan berjalan.
Sebab, Melki dan kolega tak ingin mengubur masa depan anak-anak Papua begitu saja.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.