Sabtu, 25 April 2026

Paus Leo XIV

Paus Terpilih Pernah ke Papua Pada Perayaan 50 Tahun OSA

Tahun 2003 Pater Robert Francis Prevost, OSA selaku Prior OSA, pertama kali menginjakan kakinya di Tanah Papua tepatnya di Kota Sorong Provinsi Papua

Tribun-Papua.com/istimewa
TOKOH KATOLIK : Paus Leo XIV Foto bersama biarawati pada satu kesempatan 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Paus Leo XIV yang baru terpilih pada 8 Mei 2025 di Vatikan, pernah datang ke Tanah Papua pada perayaan 50 tahun Ordo Santo Agustinus (OSA).

Romo (rm) Markus Solo melalui siaran pers yang diterima Tribun-Papua.com, Jumat, mengatakan Paus Leo XIV yang memiliki nama lengkap Robert Francis Prevost datang ke Indonesia, tapatnya Papua pada Tahun 2003.

Baca juga: Pemkab Biak Alokasi Rp26 Miliar Untuk Gaji ke -13 yang Dibayakarkan Juni

“Tahun 2003 Pater Robert Francis Prevost, OSA selaku Prior OSA, pertama kali menginjakan kakinya di Tanah Papua tepatnya di Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya. Beliau hadir dalam rangka perayaan 50 tahun Ordo Santo Agustinus (OSA) berkarya di Tanah Papua,” katanya.

Rm Markus Solo dan umat Katolik di Indonesia mengharapkan kunjungan ke Sorong bukan yang terakhir bagi Paus Leo XIV.

Baca juga: Pemkab Biak Alokasikan Rp17 Miliar Untuk Beasiswa SUP 2025

“22 Tahun kemudian (setelah kunjungan ke Sorong), Pada 8 Mei 2025 terpilih menjadi PAUS. Semoga kembali lagi kunjungi Indonesia,” ujarnya.

Menurut Rm Markus Solo, Paus Leo XIV yang baru terpilih hari ini, telah menjadi kepala kantor untuk uskup-uskup di Vatikan selama dua tahun terakhir. Dia sering melakukan olahraga ringan yaitu berjalan kaki antara pukul 7:00 dan 7:30 pagi dari Vatikan menuju biaranya Augustinianum yang terletak di samping Vatikan. 

Baca juga: Profil Robert Francis Prevost, Paus Leo XIV yang Terpilih Jadi Pengganti Paus Fransiskus

Markus Solo yang juga dikenal dengan nama Padre Marco SVD, mengatakan Paus Leo XIV berpostur agak pendek, sekitar 1,75 cm, bertubuh kecil, dan pendiam. Mereka saling menyapa dari waktu ke waktu dari jarak jauh, tetapi tidak pernah berbicara satu sama lain. 

“Hemat saya, beliau adalah pilihan yang baik. Beliau dikenal sebagai orang yang sederhana, rendah hati, sosial dan berpihak pada kebenaran. Dalam pikiran dan tindakannya menyangkut hal-hal gerejawi, beliau dikenal bersikap moderat dan terbuka terhadap dunia,” katanya.

Baca juga: Polda Papua Minta Dana Pengamanan PSU Sebesar Rp22 Miliar

Dengan nama Leo XIV, didapati kesan bahwa beliau tetap berada pada garis dan haluan Paus Fransiskus sebelumnya; mungkin dengan aksen-aksen baru. Beliau mengambil nama Paus Leo XIII (yang menjadi Paus pada awal abad ke-19) sebagai contoh orang yang berkomitmen pada isu-isu sosial (lih. ensiklik doktrin sosial "Rerum Novarum"). 

“Pidato singkatnya hari ini di balkon Basilika Santo Petrus memperjelas hal ini. Patut disebutkan juga adalah rujukannya yang berulang-ulang tentang perdamaian. Ke depannya, perjuangan beliau untuk perdamaian akan sangat kental,” ujarnya.

Baca juga: PMKRI Jayapura Kehilangan Paus Fransiskus: Teladan Kasih bagi Seluruh Umat Manusia

Paus Leo XIV berbicara bahasa Italia dengan baik, tentu saja bahasa Inggris karena berasal dari USA, dan juga bahasa Spanyol karena beliau pernah bekerja bertahun-tahun di Peru, Amerika Selatan. Bahasa Latinnya juga terdengar sangat bagus. Hal lain yang patut disebutkan adalah bahwa bahasa Italianya tidak memiliki aksen Inggris (Amerika). 

“Sepintas, beliau memberikan kesan yang sangat baik hari ini. Mari kita satukan dukungan kita terhadap Paus baru ini dengan doa dan menunjukan niat persatuan dan kesatuan kita dengan beliau dalam tugas kepemipinannya atas Gereja Katolik sedunia dan juga dalam upaya meningkatkan peran Gereja Katolik dalam dunia,” ungkapnya.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved