Minggu, 12 April 2026

Info Sarmi

Dinas Pertanian Sarmi Cegah Masuknya Penyakit ASF pada Ternak Babi

Penyakit yang disebabkan oleh virus ASF sampai saat ini belum ditemukan obat dan vaksin untuk menangkalnya.

Penulis: Anderson Esris | Editor: Lidya Salmah
istimewa
Sesi foto bersama Dinas Pertanian Kabupaten Sarmi. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Anderson Esris

TRIBUN-PAPUA.COM, SARMI- Dinas Pertanian Kabupaten Sarmi melalui Bidang Peternakan melakukan pencegahan dengan cara mensosialisasi edukasi dan membagi selebaran stiker, serta pemasangan baliho di tempat-tempat keramaian, seta himbauan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dari  African Swine Fever (ASF) atau virus demam bambi.  

Kepala Bidang Peternakan, drh Dorkas Imbiri mengatakan, demam babi Afrika sudah menyebar di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Asia .

Di Indonesia penyebaran ASF  meluas di beberapa provinsi, terbaru adalah ditemukannya ASF di peternakan babi rakyat pada Mei 2021 di Kabupaten Berau Kaltim berdasarkan hasil uji laboratorium BVET Banjar Baru.

"Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian karena lalu lintas ternak antar kabupaten di wilayah Kaltim cukup padat,  jangan sampai ASF masuk ke papua hingga di  ke Wilayah Kabupaten Sarmi," ujar Dorkas. 

Baca juga: Disbunnak Kabupaten Jayapura Cepat Tanggap Putus Wabah ASF 

Dalam upaya mencegah penularan penyakit ASF dari tertular, Dinas Pertanian Kabupaten Sarmi bersama tim meningkatkan kewaspadaan dini melalui pengawasan lalu lintas ternak di perbatasan, serta monitoring dan penyampaian komunikasi informasi dan edukasi (KIE) di tempat peternakan babi rakyat di beberapa distrik dan kampung.

Populasi ternak babi di Kabupaten Sarmi diperkirakan berjumlah 5,820 ekor.

Dorkas menjelaskan, risiko penyebaran penyakit dan dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh ASF cukup besar.

Apalagi, sambung dia, penyakit yang disebabkan oleh virus ASF sampai saat ini belum ditemukan obat dan vaksin untuk menangkalnya.

Faktor resiko penyakit ASF berupa pakan dari sisa catering/ hotel dan makanan dari kapal asing yang mengandung virus serta keberadaan babi liar yang terinfeksi virus ASF. Dan kematian yang ditimbulkan penyakit ASF menengah berkisar 30-70 persen populasi, bahkan mencapai 100 persen pada virus yang virulensinya tinggi. 

Dampak lainnya adalah hilangnya mata pencaharian peternak babi. Selain kerugian ekonomi, terdapat biaya program pengendalian penyakit ASF yang sangat tinggi yang harus dikeluarkan daerah.. Di antaranya untuk pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, biosekuriti, pemantauan dan surveilans, serta sosialisasi,"jelasnya.

"Oleh karena itu kami menghimbau kepada peternak babi yang ada di Kabupaten Sarmi agar peduli kesehatan ternak. Langkah-langkah pencegahan di usaha peternakan berupa menjaga sanitasi dan higienis kandang dan peralatan, lakukan desinfeksi kadang secara berkala, tingkatkan biosekuriti serta memberi pakan yang sudah dimasak terutama pakan dari sisa catering/hotel/kapal,"tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved