Sabtu, 25 April 2026

Nabire

Pemkab Nabire Siapkan Langkah Hadapi Krisis Daging Sapi yang Mulai Terasa

Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan Dinas Peternakan Nabire, Francisco Maker mengatakan, fenomena ini disebabkan oleh

Istimewa
PEMKAB NABIRE - Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Dinas Peternakan Nabire, Fransisco Maker saat memberi keterangan soal naiknya harga daging sapi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Jumat, (6/2/2026).(Dokumen Narsum). 
Ringkasan Berita:
  • Lonjakan Harga: Harga daging sapi di pasar tradisional Nabire mencapai Rp160.000 per kilogram akibat minimnya pasokan.
  • Dampak Wabah PMK: Stok ternak sapi terbatas karena arus masuk dari luar daerah terhenti total pasca-wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
  • Opsi Pemerintah: Pemkab Nabire menyiapkan langkah strategis, termasuk rencana mendatangkan daging beku dari Jawa Barat untuk menekan inflasi.
 

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Masyarakat Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengonsumsi daging sapi sebab harganya mahal dan stok menipis.

Berdasarkan pantauan terbaru, harga daging sapi di pasar tradisional kini telah menyentuh angka Rp160.000 per kilogram.

Kenaikan signifikan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi daerah yang tidak terkendali.

Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan Dinas Peternakan Nabire, Francisco Maker mengatakan, fenomena ini disebabkan oleh hukum pasar. 

Dia menjelaskan, ketimpangan antara permintaan yang tinggi dan ketersediaan stok menjadi akar masalahnya.

Menurut Fransisco, selama beberapa tahun terakhir, arus masuk ternak sapi dari luar daerah terhenti total hingga memberi dampak langsung dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda berbagai wilayah sumber ternak di Indonesia.

Baca juga: Telkomsel Silaturahmi dengan Media di Jayapura dan Kenalkan MyTelkomsel Basic

"Secara teori ekonomi, ketika permintaan tetap tinggi namun pasokan seret, harga pasti melonjak. Saat ini, populasi sapi lokal kita sangat terbatas karena tidak ada pemasukan dari luar akibat proteksi terhadap wabah PMK," kata Francisco Jumat, (6/3/2026).

Data pemerintah setempat menunjukkan bahwa rata-rata pemotongan sapi di Nabire mencapai delapan ekor per hari.

Jika pemotongan terus dilakukan tanpa adanya penambahan populasi dari luar, maka dikhawatirkan peternak akan mulai memotong sapi betina produktif atau sapi muda, yang dalam jangka panjang akan mematikan keberlanjutan populasi ternak lokal.

Meski pemerintah telah membuka lampu hijau untuk mendatangkan sapi dari luar Nabire, para pengusaha masih enggan bergerak sebab tingginya biaya transportasi dan risiko operasional menjadi hambatan utama.

Baca juga: Musrenbang Kwamki Narama Hasilkan 167 Usulan, Fokus pada Infrastruktur hingga Pariwisata

"Pengusaha tentu berhitung. Jika biaya angkut dari luar Papua terlalu besar dan beresiko rugi, mereka tidak akan berani memasukkan ternak. Ini yang membuat pasokan kita stagnan," ujarnya.

Guna menekan harga dan menjaga stabilitas ekonomi, Pemkab Nabire telah memberikan rekomendasi untuk mendatangkan daging sapi dari daerah lain, termasuk opsi daging beku eks-impor dari Jawa Barat yang telah memenuhi standar otoritas veteriner.

Francisco menekankan langkah cepat sangat diperlukan mengingat komoditas daging sapi merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian inflasi nasional oleh Kementerian Dalam Negeri.

"Jika tidak segera diatasi, tingginya harga daging akan menjadi beban berat bagi daya beli masyarakat Nabire di masa mendatang," pungkasnya.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved