MBG di Nabire
Kisah Eplonika Tipagau Temukan Harapan Baru Lewat Program MBG di Nabire
"Jadi setiap hari saya tanam keladi, ubi, pisang dan lain sebagainya," kata Eplonika dengan tatapan mata yang menyimpan jejak-
Penulis: Calvin Louis Erari | Editor: Marius Frisson Yewun
Ringkasan Berita:
- Perjuangan Masa Lalu: Sebelum ada program MBG, Eplonika harus bekerja keras berkebun dan memanggul hasil bumi ke pasar dengan penghasilan yang tidak pasti.
- Perubahan Nasib: Sejak Desember 2025, ia bekerja di SPPG Gerbang Sadu Wadio Nabire sebagai tenaga kerja program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Kepastian Ekonomi: Program ini memberikan gaji tetap yang digunakan Eplonika untuk membeli kebutuhan pokok dan membiayai sekolah kedua anaknya.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari
TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Di balik riuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, terselip sebuah kisah pilu tentang perjuangan seorang ibu yang mempertaruhkan keringat demi nafas kedua buah hatinya.
Eplonika Tipagau, seorang pekerja SPPG Gerbang Sadu Wadio, Distrik Nabire Barat, potret nyata dari penderitaan yang mencoba tegak berdiri di atas tanah yang kaya namun sering kali melupakan rakyat kecilnya.
Sebelum seragam pekerja MBG melekat di tubuhnya, hidup Eplonika adalah rangkaian hari yang panjang dan melelahkan.
Baca juga: Kapolres Jayapura Pimpin Sertijab Kasat Reskrim dan Sejumlah Kapolsek
Sebagai ibu yang memiliki dua anak, dia harus berjibaku dengan tanah yang keras.
Eplonika mengatakan, sebelum masuk bekerja di SPPG Gerbang Sadu Wadio, dia bekerja hanya berkebun.
"Jadi setiap hari saya tanam keladi, ubi, pisang dan lain sebagainya," kata Eplonika dengan tatapan mata yang menyimpan jejak-jejak kelelahan bertahun-tahun, kepada awak media, termasuk Tribun-Papua.com, Rabu, (13/5/2026).
Bayangkan saja, di bawah terik matahari Nabire yang menyengat, dia mencangkul dan merawat tanaman dengan harapan yang tipis.
Baca juga: Manajemen Astra Motor Papua Kunjungi SMK Merauke Demi Perkuat Pendidikan Vokasi
Setiap kali musim panen tiba, perjuangannya belum usai.
Dia harus memanggul hasil buminya menuju Pasar Karang, dengan harapan ada pembeli yang sudi menukar hasil keringatnya dengan beberapa lembar rupiah yang tak seberapa.
Sering kali, hasil penjualan itu hanya cukup untuk makan satu hari, menyisakan kekhawatiran untuk esok pagi, yang terbawa jelang tidur.
Ada rasa perih yang tak terkatakan jika hasil kebun tak laku dijual.
Nasib Eplonika mulai berubah pada Desember 2025 dengan kehadiran program MBG di Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Baca juga: Astra Motor Sorong Gelar Servis Kunjung di BP2IP Demi Manjakan Pekerja
Bagi dia, program ini bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan sebuah pelampung keselamatan di tengah samudra kehidupan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/msmso099708bmgnabre.jpg)