Senin, 27 April 2026

Aksi Konflik Bersenjata di Papua

Jarinus Murib Kecam Drama Putar Balik Fakta Penembakan Bocah Puncak

"Aparat militer yang melakukan operasi harus diusut dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini," tegasnya.

Tribun-Papua.com/Putri Nurjannah Kurita
DEMONSTRASI DI JAYAPURA - Salah satu mahasiswa yang sedang melakukan orasi dalam aksi demonstrasi bertajuk 'Papua Darurat Militer' di Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin, 27 April 2026. Mereka menuntut keadilan terhadap warga sipil yang mati oleh peluru aparat. 
Ringkasan Berita:
  • Tuntutan Keadilan: Mahasiswa Papua berdemonstrasi di Abepura mendesak pengusutan penembakan anak 5 tahun oleh aparat di Kabupaten Puncak.
  • Tudingan Putar Balik Fakta: Ketua BEM Jarinus Murib menuduh militer memanipulasi informasi di media terkait jatuhnya korban sipil dalam operasi senjata.
  • Kritik Operasi Militer: Kehadiran TNI-Polri dinilai menghambat aktivitas warga dan seharusnya hanya berfokus melawan TPNPB, bukan rakyat biasa.

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Masyarakat sipil di Tanah Papua terus menjadi korban di tengah konflik bersenjata antara aparat keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Demikian bunyi orasi yang disampaikan oleh Jarinus Murib, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Papua saat aksi demonstrasi 'Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan' di Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (27/4/2026).

Jarinus Murib menegaskan kepada Panglima TNI atas peristiwa penembakan yang mengakibatkan seorang anak umur 5 tahun tertembak di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak bahwa pelakunya harus segera ditangkap dan diadili.

Baca juga: Jhon Tabo Bongkar Aib Data Bupati yang Bikin Anggaran Papua Pegunungan Terjun Bebas

"Aparat militer yang melakukan operasi harus diusut dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini," tegasnya.

Jarinus membeberkan bahwa aparat militer telah memutarbalikkan fakta yang terjadi atas operasi yang sudah di lakukan sehingga mengakibatkan warga sipil menjadi korban.

"Jangan membalikkan fakta di media. Itu tidak boleh. Kami tahu di negara Indonesia ini yang salah itu dibenarkan dan yang benar itu disalahkan," ujar Jarinus.

Jarinus menyatakan bahwa kehadiran militer di Tanah Papua terus menghadirkan konflik sehingga warga sipil tidak bisa hidup dengan aman dan damai.

Baca juga: Aksi Massa di Wamena Berujung Ricuh Akibat Oknum Diduga Intelijen Tendang Peserta Demo

Menurutnya, musuh dalam perang antara TNI dan Polri yakni Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang juga mengangkat senjata, bukan warga sipil.

"Tanpa kehadiran TNI, warga sipil bisa hidup damai. Kalau ada TNI rakyat tidak bisa beraktivitas bebas. Kalian lawan dengan TPNPB itu boleh, tetapi jangan membunuh warga sipil yang tidak tahu apa-apa," tegas Jarinus.

Prio Wakerkwa, mahasiswa dari Universitas Cendrawasih (Uncen) menyatakan, orang Papua akan hidup dan mati di atas tanahnya sendiri. Ia mengatakan rakyat Papua ingin hidup damai bukan mengalami peristiwa pembunuhan di mana-mana.

"Kami hidup di tanah ini. Tuhan kasih tanah ini bukan di Jakarta. Kami akan mati di Papua tetapi ingin hidup damai bukan dapat bunuh seperti hewan," jelasnya.

Baca juga: Percepat Penanganan Penyakit Menular, Wamenkes dan DPR Tinjau Fasilitas Kesehatan di Jayapura

Prio menegaskan bahwa meskipun tidak memilki kekuatan besar untuk melawan negara tetapi kekuatan Tuhan yang akan membalas seluruh kejahatan yang terjadi di Tanah Papua. Ia mendesak Panglima TNI agar segera menarik pasukan dari Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Tolikara, dan seluruh Tanah Papua.

"Saya utusan dari pengungsi yang turun di Puncak Jaya. Saya tidak bisa melawan negara yang besar, saya tidak punya kekuatan saya hanya punya Tuhan yanga akan membalas segala kejahatan yang akan dilakukan oleh aparat di negara ini," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved