Studi Terbaru, Masyarakat di Dunia Diimbau Social Distancing hingga 2022 untuk Redam Virus Corona

Upaya dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 atau Virus Corona.

AFP/YONHAP/SOUTH KOREA OUT
Para petugas dilengkapi pakaian pelindung menyemprotkan cairan desinfektan di sebuah pasar di daerah Daegu, Korea Selatan, menyusul meluasnya wabah virus corona di negara itu, Minggu (23/2/2020). Penyebaran virus corona hingga hari ini, Senin (24/2/2020), semakin menunjukkan peningkatan di sejumlah negara, seperti Italia, Iran, dan Korea Selatan. 

TRIBUNPAPUA.COM - Berbagai upaya dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 atau Virus Corona yang saat ini menjadi pandemi global, seperti lockdown dan jaga jarak.

Dalam studi terbaru yang dilakukan ilmuwan Harvard, lockdown yang telah dilakukan beberapa negara tidak cukup untuk menghentikan penyebaran.

Mereka juga menyampaikan, kita mungkin harus melakukan social distancing atau jaga jarak satu dengan yang lain sampai 2022 nanti.

Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah gelombang lain Virus Corona baru yang bisa saja mengancam jiwa manusia.

Suami Pulang dari Zona Merah Virus Corona, sang Istri Jadi Pasien Positif Covid-19 Pertama di Bima

Hasil kesimpulan itu berdasarkan pada perhitungan simulasi komputer yang laporannya terbit di jurnal Science, Selasa (14/4/2020).

Dituliskan dalam laporan tersebut, Covid-19 akan menjadi penyakit musiman seperti flu biasa, tetapi dengan tingkat penularan yang lebih tinggi dan berlangsung selama berbulan-bulan.

Namun, peneliti mengaku masih banyak yang belum diketahui, termasuk tingkat kekebalan yang didapat dari infeksi Covid-19 sebelumnya dan berapa lama hal itu akan berlangsung.

"Kami menemukan bahwa melakukan social distancing atau menjaga jarak fisik hanya satu kali kemungkinan tidak cukup untuk menghentikan penyebaran Virus Corona baru SARS-CoV-2," kata penulis utama studi Stephen Kissler, dilansir dari AFP, Rabu (15/5/2020).

"Yang tampaknya diperlukan adalah menerapkan periode menjaga jarak dengan sistem intermiten atau selang-seling," ungkapnya.

Ahli berkata, durasi dan intensitas lockdown baru dapat dilonggarkan ketika vaksin sudah tersedia.

Pengunjung Kafe dan Warkop Langsung Bubar saat Tahu Ada 2 Orang Positif Virus Corona di Lokasi

Para pekerja medis membawa seorang pasien di bawah perawatan intensif ke rumah sakit sementara Columbus Covid 2 yang baru dibangun pada 16 Maret 2020 untuk para pasien coronavirus di Gemelli di Roma. Wabah Virus Corona di Italia Makin Parah, Orang Berusia 80 ke Atas akan Dibiarkan Mati jika Kondisinya Kritis
Para pekerja medis membawa seorang pasien di bawah perawatan intensif ke rumah sakit sementara Columbus Covid 2 yang baru dibangun pada 16 Maret 2020 untuk para pasien coronavirus di Gemelli di Roma. Wabah Virus Corona di Italia Makin Parah, Orang Berusia 80 ke Atas akan Dibiarkan Mati jika Kondisinya Kritis (AFP/ANDREAS SOLARO)

Namun, selagi belum ada vaksin, menjaga jarak dengan orang lain akan membantu rumah sakit meningkatkan kapasitas perawatan klinis, khususnya ketika lonjakan kasus terjadi saat langkah-langkah pencegahan dilonggarkan.

Penulis mengatakan, ketika semua orang menjaga jarak aman, setidaknya dua meter, ini akan membantu petugas medis di garda terdepan untuk meningkatkan kapasitas perawatan terlebih jika ada lonjakan kasus.

Selain itu, kebiasaan jaga jarak yang dilakukan selama dua tahun, diharapkan dapat menghentikan munculnya gelombang kedua Covid-19.

"Bahkan pengawasan terhadap Virus ini harus tetap dilakukan karena perkembangan penularan diprediksi bisa saja berlangsung hingga akhir 2024," tulis penulis.

Diakui penulis, kelemahan utama dalam model simulasi mereka adalah saat ini masih sangat sedikit yang diketahui tentang seberapa kuat kekebalan seseorang sebelum terinfeksi Covid-19 dan berapa lama hal ini bertahan.

Para ahli hanya mampu berspekulasi, orang yang terinfeksi Covid-19 memiliki kekebalan dibanding yang lain sekitar satu tahun.

Tes antibodi yang saat ini mulai dipasarkan ke berbagai negara akan mengetahui apakah seseorang sebelumnya sudah terinfeksi Covid-19 atau belum. Ini penting untuk menjawab pertanyaan terkait kekebalan tubuh dan vaksin tetap menjadi senjata pamungkas.

(Kompas.com/ Gloria Setyvani Putri)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ahli Harvard Sarankan Social Distancing Perlu Dilakukan sampai 2022"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved