Breaking News:

Papua Terkini

BBKSDA Papua Lepasliarkan 12 Ekor Satwa, Ada Sepasang Cenderawasih Kuning

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan satwa endemik Papua di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang

Istimewa
Kepala BKSDA Papua bersama jajarannya, saat melakukan pelepasliaran satwa endemik Papua di hutan adat Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura, Selasa (31/8/2021). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan satwa endemik Papua di KPA Isyo Hills Bird Watching, Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura.

Kepada awak media dalam keterangan persnya Selasa (31/8/2021) Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring mengatakan sejumlah satwa endemik Papua yang dilepasliarkan, merupakan satwa translokasi dari luar Papua.

Baca juga: Partai PKB Konsisten Dukung Kenius Kogoya Sebagai Cawagub Papua

"Kami mendapatkan berbagai satwa endemik Papua ini, dan secepatnya kami lakukan pelepasliaran, demi kesejahteraan hewan," jelasnya.

Secara rinci, dalam pelepasliaran satwa endemik Papua hasil translokasi itu, terdapat dua ekor Cenderawasih Kuning Kecil (Paradisaea Minor) yang merupakan penyerahan BKSDA Jakarta dan Yogyakarta.

Selain itu, dilepasliarkan juga dua ekor kakatua raja (Probosciger aterrimus) dari translokasi BKSDA Jakarta.

Baca juga: Kejaksaan Sorong Terima Berkas Perkara Pembunuhan Anggota Brimob

Kemudian, terdapat pula lima ekor kasturi kelapa hitam (Lorius lory) dan satu ekor Nuri Kelam (Pseudeos Fuscata), yang diseraterimahkan dari BKSDA Jakarta.

Sedangkan, penyerahan satwa dari masyarakat di Jayapura, yakni dua ekor Kasuari Gelambir Tunggal (Casuarius Unappendiculatus).

Semua satwa tersebut dilindungi undang-udang berdasarkan Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang
Dilindungi.

Baca juga: Empat KKB Pembunuh Pekerjaan Bangunan di Yahukimo Tertangkap

Sementara berdasarkan Daftar Merah Spesies Terancam IUCN, semua satwa tersebut berstatus Least Concern (LC) atau risiko rendah, dan termasuk Appendix II CITES, kecuali kakatua raja masuk dalam Appendix I.

Pihak BBKSDA Papua telah menetapkan lokasi pelepasliaran sesuai daerah persebaran satwa.

Pemilihan lokasi ini sekaligus untuk mendukung upaya masyarakat adat setempat, dalam mengembangkan wisata minat khusus Bird Watching, yang telah dirintis sejak beberapa tahun silam oleh Alex Waisimon.

Baca juga: Astra Motor Papua Rutin Edukasi Keselamatan Berkendara Bagi Warga di Papua

Dalam kesempatan itu, Edward mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga satwa endemik Papua, sebelum menjadi kenangan.

"Biarkan mereka (satwa endemik Papua) hidup dengan nyaman di alam," tutupnya.

Sumber: Tribun Papua
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved