Sosok
Intan Andaru, Dokter PTT Indonesia yang Gemar Menulis Novel Tentang Halmahera dan Papua
Dokter Intan Andaru merupakan sastrawan perempuan yang aktif menulis soal kesehatan di beberapa daerah yang menjadi tempat tugasnya.
"Bertugas di daerah membuat saya ingin mengangkat kisah-kisah sosial di sana, cerita-cerita yang mungkin belum didengar orang. Penulis itu kan berproses ya, saya tidak ingin karya saya begitu-begitu saja. Saya ingin pembaca tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapat informasi penting dengan membaca karya saya," terangnya.
Tulisan pertama Intan yang ia publikasikan adalah tentang penerimaan terhadap pengidap HIV/AIDS.
Buku kumpulan cerpen tersebut diberi judul Saat Waktu Berkejaran yang ia luncurkan tak lama usai kelulusannya, yakni pada tahun 2013.
Cerita-cerita di buku pertamanya, ia dapatkan dari kisah para pasiennya selama Co-Ass di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Kala itu banyak pasien pengidap HIV/AIDS yang bertemu dengannya.
Baca juga: Persipura Baru Daftarkan 30 Pemain Pada PT Liga Indonesia Baru
"Mau tak mau sebagai seorang dokter, pasti saya menanyakan hal-hal pada pasien saya, yang berkaitan dengan penyakitnya. Akhirnya muncul cerita-cerita menarik di sana," ucapnya.
Lewat cerita-cerita pasiennya, Intan menyadari bahwa sebenarnya penyakit yang mereka derita tak separah itu. Yang memperparah sesungguhnya adalah stigma negatif yang disematkan masyarakat pada mereka.
Alumnus SMAN 1 Genteng ini mengungkap sebuah kisah yang membekas di antara kisah-kisah lainnya.
"Ada pasien yang cerita, dia itu dulunya bekerja sebagai PSK, lalu sudah berhenti dan menikah. Ketika hamil, ia semakin kurus, akhirnya ketahuan kalau dia mengidap HIV/AIDS. Sayangnya, dia jadi dikucilkan sama warga kampungnya gara-gara penyakitnya," jelasnya.
Keadaan tersebut tak ayal membuat kondisi pasiennya semakin parah.
"Jadi ya sebenarnya penyakitnya tidak parah, tapi sikap masyarakat yang memperparah," tukasnya.
Tetapi pada perjalanannya, ia menelurkan tulisan berupa novel, mini novel, sampai antologi cerpen, yang semuanya bergenre roman.
"Kemudian, saya mendapat banyak masukan dari teman-teman, bagaimana kalau menulis tidak hanya tentang cinta saja, tetapi yang lebih berdampak pada masyarakat? Tulisan saya yang cinta-cintaan ini kan lebih pada tujuan menghibur, kenapa tidak mengangkat tujuan yang lebih besar?" paparnya.
Intan pun seakan kembali pada runtutan pengerjaan novel seperti buku pertamanya.
Cerita-cerita yang menjadi ide tak hanya didapat dari pasien, tetapi juga warga yang dekat dengannya.