Sosok
Intan Andaru, Dokter PTT Indonesia yang Gemar Menulis Novel Tentang Halmahera dan Papua
Dokter Intan Andaru merupakan sastrawan perempuan yang aktif menulis soal kesehatan di beberapa daerah yang menjadi tempat tugasnya.
Soal Halmahera
Saat di Halmahera, Dokter Intan kerap mendengar cerita ketakutan warga kala konflik 1998.
Imbas konflik tersebut meninggalkan trauma untuk warga. Ia juga bercerita ada seorang pasien yang sakit parah dan perlu pengobatan di kota.
Meski sudah memiliki BPJS, akomodasi dan transportasi ke kota tetap memakan biaya yang cukup besar.

Ia pun membantu pendanaannya lewat WeCare.id, sebuah situs web khusus pengumpulan dana bagi pasien berkemampuan finansial terbatas.
"Itu dia sampai benar-benar tidak percaya bahwa saya Muslim, dan mau membantu dia yang berbeda agama. Bagi mereka, saat itu agama itu sebuah sekat yang tidak bisa ditembus. Memang mereka kalau bertemu dengan warga agama lain saling menyapa, tapi ya sekadar itu saja, tidak dekat personal," kata Intan dikutip dari laman Kompas.
Lewat buku berjudul 33 Senja di Halmahera, Intan ingin menyampaikan pesan tentang perbuatan baik tak harus melihat latar belakang agama.
Sebagai seorang penulis yang sudah menghasilkan karya tentang pelosok Nusantara, Intan justru belum pernah mengangkat tentang tanah kelahirannya, Banyuwangi.
"Agak lucu sih memang, saya sudah mengangkat cerita tentang daerah-daerah lain, tapi malah belum menceritakan soal kampung halaman saya," sahutnya.
Baca juga: Anggota Komisi V DPRP Pertanyakan Pernyataan Jubir Gubernur Terkait Pergantian Aloysius
Ada satu kisah dari tempat asalnya, yang membuatnya sangat gelisah yakni pembantaian dukun santet.
Kisah di tanah kelahirannya itu, mendorongnya melahirkan karya yang baru saja ia luncurkan Januari 2019 ini, yaitu 'Perempuan Bersampur Merah.
Novel ini masih memiliki unsur roman, namun berlatar belakang tragedi pembantaian terhadap orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam, yang terjadi pada kurun waktu Februari hingga September 1998.
Meski pencarian informasi dilakukan di kota asalnya, rupanya Intan tak bisa mendapat yang ia butuhkan semudah di Halmahera.
Karenanya, ia menghimpun informasi dari masyarakat sekitar dan berhasil mengorek kisah sebuah keluarga korban pembantaian.
"Tapi ya tidak semudah itu juga. Saya harus beberapa kali bertemu dengan mereka, baru mereka mau bercerita. Saya saja awalnya tidak mengaku sebagai penulis, tetapi mahasiswa. Ketika sudah dekat dengan keluarga tersebut, baru saya katakan tujuan saya," jelasnya.