Jumat, 17 April 2026

Noken

Noken di Kepala Mama Papua hingga Jadi Warisan Budaya Dunia Unesco

Perjalanan Noken hingga menjadi warisan budaya dunia sejak 4 Desember 2012 lalu, memang melalui perjalanan yang panjang

Penulis: Aldi Bimantara | Editor: M Choiruman
Tribun-Papua
BUDAYA PAPUA - Mama Papua dengan Noken di kepalanya, saat berjalan menyusuri perkotaan, Minggu (24/10/2021).  

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Tas tradisional Papua Noken tak sekadar tempat mengisi hasil perkebunan, namun memiliki filosofi secara adat. Mulai digantung di kepala mama-mama Papua, kini Noken telah diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia.

Noken Papua Masuk Warisan Budaya Tak Benda, Tenun Ikat NTT Siap Nyusul

Sehari-hari di Papua, di jalanan, pasar, tempat ibadah, kampus, bahkan di mall, masyarakat selalu mengenakan Noken untuk beraktivitas sehari-hari. Mulai kalangan anak muda, hingga orang tua, tak terlewatkan mengenakan tas khas Papua ini. 

Motif Noken bermacam-macam, mulai dari Noken Kulit Kayu, Noken Rajutan Benang, Noken Anggrek, hingga Noken Bulu Kasuari, dan lain sebagainya 

Perjalanan Noken hingga menjadi warisan budaya dunia sejak 4 Desember 2012 lalu, memang melalui perjalanan yang panjang. 

Selain karena digunakan sehari-hari oleh mayoritas masyarakat Papua, keunikannya yang dibawa dengan kepala oleh mama-mama Papua, menjadikannya bernilai khas sehingga didaftarkan ke Unesco. 

Makna Noken Bagi Mama Papua: Wadah Hasil Kebun Hingga Menggendong Bayi 

Noken yang berukuran besar biasanya dipakai oleh mama-mama Papua, untuk mengangkut hasil kebun dan juga menempatkan bayi.

Tas Noken yang digunakan oleh mama-mama Papua biasanya dikenakan di kepala, dengan mengaitkannya di dahi.

Dari pengunaannya oleh mama-mama Papua tersebut, Tas Noken menjadi lebih bermakna dan menjadi alasan terkuat dipilih sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco.

Jadi Souvenir PON Papua, Ini Sejarah di Balik Tas Noken yang Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya

Saat itu, Noken diputuskan menjadi warisan budaya dunia tak berbenda (intangible cultural heritage) oleh Unesco di Perancis, dengan tujuan untuk melindungi eksistensinya, dan menggali lebih jauh kebudayaan tersebut. 

Penetapan Noken sebagai warisan budaya dunia tak berbenda itu, tentu melalui tahapan panjang dan disesuaikan dengan kriteria Unesco.

Dari sumber literatur budaya yang diperoleh Tribun-Papua.com, diketahui sebanyak 250 etnis di Papua memiliki tradisi kerajinan tangan Noken yang sama, namun fungsinya berbeda-beda. 

Peminat Noken Kelelawar Saat PON XX Papua Cukup Meningkat

Secara umum, Noken biasanya digunakan oleh mama-mama Papua dari wilayah pegunungan, untuk membawa barang yakni kayu bakar, hasil kebun, hingga barang belanjaan. 

Sementara, Noken yang berukuran kecil biasanya digunakan masyarakat Papua untuk mengisi barang kebutuhan pribadi, misalnya para pelajar yang membawa Noken ke sekolah untuk mengisi buku.

Tak hanya sampai di situ, Noken juga difungsikan dalam upacara adat, hingga sebagai aksesoris ataupun kenang-kenangan bagi tamu. 

Mama Maria Ukago Sejak 2005 Berjualan Noken dengan Penuh Cinta untuk PON XX Papua

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved