Sabtu, 9 Mei 2026

Mengenang Soe Hok Gie

Soe Hok Gie dan Romantisme Aktivis Masa Lalu

Kaum Hawa mengenalnya sebagai sosok yang romantis. Sisi romantisnya berwujud tindakan sampai bait puisi.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
Soe Hok Gie (Foto: Istimewa) 

TRIBUN-PAPUA.COM - Popularitas Soe Hok Gie acap kali bikin gerah rezim berkuasa.

Kritikannya yang tajam jadi muasal. Namun, kehidupannya tak melulu diisi oleh masalah serius.

Ia sama seperti mahasiswa Universitas Indonesia (UI) angkatan 60-an yang umumnya melanggengkan narasi buku, pesta, dan cinta.

Kaum Hawa mengenalnya sebagai sosok yang romantis. Sisi romantisnya berwujud tindakan sampai bait puisi.

Karenanya, Gie dianggap sosok idaman. Sekalipun Gie dikenal sebagai seorang puritan dalam hal cinta. Apalagi seks.

Bagi mahasiswa, idealisme adalah kemewahan terakhir. Pandangan itulah yang menuntun daya kritis seorang Gie dalam melihat ketidakadilan.

Baca juga: Mengenang Soe Hok Gie, Ikon Aktivis Mati Muda di Gunung Semeru 16 Desember 1969

Terutama, kala persoalan itu menyangkut hajat hidup orang banyak.

Ia memanfaatkan banyak ruang untuk bersuara – dari mimbar demonstrasi hingga menulis di media massa.

Kebijakan-kebijakan rezim yang memihak orang kaya dilawannya. Pemerintah diminta untuk lebih peduli nasib rakyat kecil.

Perjuangan itu terus dilakukan oleh Gie, apapun risikonya. Sekalipun nyawa taruhannya.

Bukan apa-apa. Gie memandang perjuangan seorang mahasiswa laksana seorang koboi penyelamat.

Analogi tersebut telah berkembang di antara mahasiswa angkatan 66.

Seorang mahasiswa dianggapnya sebagai koboi yang kebetulan singgah di desa yang dikuasai oleh bandit.

Gie terenyuh melihat para penduduk desa yang tertindas.

Karenanya, koboi merasa terpanggil untuk membebaskan desa. Tanpa ada yang menyuruh, apalagi meminta.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved