Mengenang Soe Hok Gie
Soe Hok Gie dan Romantisme Aktivis Masa Lalu
Kaum Hawa mengenalnya sebagai sosok yang romantis. Sisi romantisnya berwujud tindakan sampai bait puisi.
Kalau dia merasa perlu berkomentar, dia berkomentar. Kalau tidak dia hanya mendengarkan saja. Sikap Gie itu dianggap oleh Ker sebagai sesuatu yang romantis.
Perlahan tapi pasti, rasa cinta kepada Gie tumbuh. Ker menyukai Gie. Tapi tidak bagi keluarganya.
Perbedaan suku antara Gie dan Ker jadi kendala. Gie keturunan China. Sedang Ker dari keluarga Batak yang konservatif.
Orang tuanya Ker takkan setuju. Artinya kehidupan keduanya takkan bisa menyatu.
Selain itu, Ker juga mengetahui bahwa sebenarnya Gie itu cinta mati dengan anak jurusan sastra Prancis, Maria.
Baca juga: Menengok Sisi Humanis dari Selera Lidah Presiden Soekarno
Ker tak mengetahui pasti kapan keduanya jadian. Tapi menurut penuturan Gie dalam catatan hariannya hubungan itu sudah berlangsung selama satu tahun.
Keduanya berpacaran diam-diam, bersembunyi dari orang tua Maria. Akhirnya pun hubungan itu tak berlanjut. Orang tua wanita lagi-lagi tak setuju.
“Saya ajak ngobrol-ngobrol dan mencoba menyadarkannya atas situasi baru yang kami hadapi. Saya katakana bahwa perkembangan selanjutnya sangat banyak ditentukan oleh sikapnya. Saya tunjukkan dua kemungkinan. "
"Pertama, bertempur dari dalam, ‘you musk ask your right to choose your boyfriend.’ Saya katakan bahwa soal ini soal berat, karena ia harus bertempur sendirian di rumah. Kalau ia tak berani bertempur untuk hal tadi maka soalnya menjadi sulit. I can only give my support,” kata Soe Hok Gie dalam curhatannya di buku Catatan Seorang Demonstran (2011).
Hari Terakhir
Gie bercita-cita menaklukkan atap tertinggi pula Jawa: Semeru. Ia mencoba untuk mewujudkan mimpinya.
Ingin merayakan ulang tahun di puncak tertinggi pulau Jawa, katanya.
Alhasil, Pendakian ke Semeru jadi peristiwa besar bagi Gie pada Desember 1969.
Dalam pendakian peristiwa buruk menimpa Gie. Napas jadi berat. Ia sempat berhasil mencicipi berada di puncak Mahameru, sesuai mimpinya.
Namun, suasana menyeramkan terjadi. seluruh pendaki bergegas turun. Tapi Gie tidak.
Dalam penurunan itu, mahasiswa Soe Hok Gie, Rudy Badil melihatnya sudah kelelahan.
Gie tampak duduk di tepian lereng menjelang puncak Semeru. Ia termenung dengan ciri khasnya: duduk sembari menopang dagu.
Ia menyapa Gie, dan Gie menyapanya dengan menitipkan sejumput daun cemara untuk dititipkan kepada mahasiswi di kampusnya.
Sebagai bukti mereka berhasil mendaki Semeru, juga sebagai penegas ia sosok yang romantis.
“Sore hari Selasa Pon tanggal 16 Desember 1969 atau 6 Syawal 1390 Hijriah, di tepian lereng menjelang puncak Semeru, Soe Hok Gie yang umurnya 27 tahun minus sehari lagi duduk setengah termenung. Sejarawan muda yang bujangan dan berbadan ceking tapi bugar itu lagi duduk termenung dengan gaya khasnya: duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu.”
Baca juga: 54 Tahun Soeharto Kudeta Soekarno dan Jabat Presiden RI
“Soe sempat tersenyum dan bilang, ‘Nih gue titip ya, ambil dan bawa pulang batu Semeru, batu dari tanah tertinggi di Jawa. Simpan dan berikan ke cewek-cewek ya,’ begitu kira-kira ujarnya.” Pungkas Rudi Badil dalam buku Soe Hok Gie: Sekali Lagi (2009).
Meski sosoknya telah tiada, romantismenya masih bertahan hingga hari ini. Daya magis romantismenya bahkan dilantunkan berkali-kali oleh generasi muda.
Semua itu berkat kehadiran sebuah puisi dari catatan hariannya yang bertanggal 1 April 1969.
Puisi itu berjudul Sebuah Tanya:
Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
(Kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah mendala wangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika ku dekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?
(Haripun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu)
Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru
Baca selengkapnya di voi.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/soe-hok-gie.jpg)