Minggu, 10 Mei 2026

Mengenang Soe Hok Gie

Soe Hok Gie dan Romantisme Aktivis Masa Lalu

Kaum Hawa mengenalnya sebagai sosok yang romantis. Sisi romantisnya berwujud tindakan sampai bait puisi.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
Soe Hok Gie (Foto: Istimewa) 

Tindakan itu hanya insting, katanya. Kala perjuangannya berhasil, maka koboi penyelamat segera meninggalkan kota.

Baca juga: Aktivis Mati Muda di Gunung Semeru Itu Bernama Soe Hok Gie

Ia tak mau menerima hadiah, ataupun jabatan. Dan Gie telah mengamalkan itu dalam tindak-tanduk kehidupan.

“Soe Hok Gie berpendapat aksi mahasiswa adalah gerakan kelompok yang seharusnya seperti tindakan koboi. Gerakan murni karena moral dan panggilan hati nurani, bukan karena alasan lain atau mengharapkan pamrih, misalnya untuk mencari jabatan dan kekuasaan.”

“Setelah selesai misinya, seharusnya kembali lagi ke kampus, meneruskan kuliah dan berkarier masing-masing. Saya kira pemikiran Hok Gie ini diilhami film koboi Shane yang dibintangi Alan Ladd. Film ini diputar pada pertengahan 1950-an dan sangat terkenal. Saya sendiri pernah menontonnya dan ceritanya mirip dengan analogy cerita koboi yang disampaikan itu,” ungkap Mahasiswa Angkatan 66, Firman Lubis dalam buku Jakarta 1950-1970 (2018).

Kesungguhan Gie dalam membela hajat hidup orang banyak membuatnya dianggap sosok yang serius.

Padahal, sosok Gie tidak ada bedanya dengan mahasiswa umum. Gie malah terlihat seperti mahasiswa UI yang menyukai narasi buku, pesta, dan cinta.

Gie menyukai aktivitas bercengkrama dengan buku-buku, menghabiskan waktu bersenang-senang bersama teman, dan yang paling penting membangun hubungan romantis dengan kaum hawa.

Romantika itu semakin terlihat ke dirinya semakin mendalami aktivitas naik gunung. Aktivitas itu dilakukan untuk aktualisasi diri.

Ia mampu mengenal dirinya lebih jauh. Begitu pula mengenal wanita.

Lebih lagi, wanita yang dicintainya itu memiliki hobi yang sama dengannya: naik gunung.

Setelahnya, sisi romantisme Gie mulai dilanggengkan dalam bentuk tindakan, hingga merasuk dalam goresan pena yang berisi bait-bait puisi indah.

Baca juga: Niatnya Bikin Timnas Indonesia Panik, Taktik Malaysia Malah Diungkap Pemainnya

“Di kalangan para anggota Mapala ada cita-cita bahwa kalau mereka mendapatkan jodoh seorang pecinta alam, akan honeymoon di puncak gunung dan ‘mendengarkan konser burung-burung hutan.’ Sebuah kalimat yang umum di kalangan anggota Mapala, kalau mereka melamun tentang perkawinan,” ungkap Soe Hok Gie dalam buku Zaman Peralihan (2005).

Foto Soe Hok-Gie yang ditemukan di Sekretariat Mapala UI, Depok, Jawa Barat. Soe Hok-Gie merupakan salah satu pendiri Mapala UI sekaligus aktivitis yang turut berperan dalam aksi long march dan demo besar-besaran pada tahun 1966. Mapala UI sebagai salah satu pelopor pencinta alam di Indonesia, memiliki foto-foto yang menjadi bagian sejarah kepencintaalaman di Indonesia(Dokumentasi Mapala UI)
Foto Soe Hok-Gie yang ditemukan di Sekretariat Mapala UI, Depok, Jawa Barat. Soe Hok-Gie merupakan salah satu pendiri Mapala UI sekaligus aktivitis yang turut berperan dalam aksi long march dan demo besar-besaran pada tahun 1966. Mapala UI sebagai salah satu pelopor pencinta alam di Indonesia, memiliki foto-foto yang menjadi bagian sejarah kepencintaalaman di Indonesia(Dokumentasi Mapala UI) (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Romantisme Gie

Gie  selalu memandang kaum wanita setara. Selama hidupnya, ia tak pernah memandang rendah kaum wanita.

Pun ketika ada sahabatnya yang terdengar melecehkan kaum wanita maka Gie tak sungkan untuk menegurnya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved