Rabu, 8 April 2026

Kesehatan

Libur Imlek Dibayangi Covid-19, Tradisi Mudik di China Terganggu

Tahun Baru Imlek tinggal menghitung hari dan akan menjadi tahun ketiga perayaan terbesar di China ini harus dirayakan di tengah pandemi covid-19

Editor: Maickel Karundeng
Tribun Bali/Rizal Fanany
Seorang umat memercikkan tirta ke sejumlah barongsai dalam perayaan menyambut Hari Raya Imlek 2567 di Vihara Dharmayana Kuta, Badung, Minggu (7/2/2016). 

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA- Tahun Baru Imlek tinggal menghitung hari dan akan menjadi tahun ketiga perayaan terbesar di China ini harus dirayakan di tengah pandemi covid-19.

Kebiasaan kumpul keluarga di tahun ini pun masih terhalang akibat banyak orang memutuskan tidak mudik.

Seperti diketahui, Tahun Baru Imlek adalah waktu terpenting bagi keluarga untuk berkumpul, disamakan oleh beberapa orang dengan gabungan Natal, Thanksgiving, dan Tahun Baru.

Baca juga: Ramalan Zodiak Besok, Sabtu 29 Januari 2022: Taurus Jangan Buru-buru, Libra Berbenah Rumah

Biasanya ratusan juta orang akan kembali ke kampung halamannya untuk merayakan bersama keluarga.

Dikutip dari CNN, Kementerian Perhubungan China pun memperkirakan 1,18 miliar perjalanan akan dilakukan selama liburan imlek tahun ini, yang meningkat 35% dari tahun lalu.

Namun, angka tersebut masih jauh lebih rendah dari 3 miliar perjalanan yang dilakukan pada 2019 sebelum pandemi.

Baca juga: Dandim 1710/Mimika Pimpin Upacara Pelepasan Jenazah 3 Prajurit Gugur di Tangan KKB

Adapun, angka yang masih rendah dari masa sebelum pandemi sejalan dengan kebijakan otoritas lokal yang mencegah penduduk bepergian untuk mengekang penyebaran virus corona, terutama varian Omicron yang saat ini sedang merebak.

Misalnya, Dongguan di Provinsi Guangdong Cina Selatan yang akan mengeluarkan amplop merah senilai total 500 juta yuan setara US$ 78,88 juta untuk karyawan non-lokal yang memilih untuk tinggal di kota selama liburan tersebut.

Sebagai informasi, Dongguan merupakan basis manufaktur utama yang memiliki lebih dari 190.000 perusahaan industri dengan hampir 7 juta pekerja migrain.

Baca juga: 30 Saksi Diperiksa Terkait Bentrok dan Pembakaran Diskotik di Sorong, Dua Pembacok Ditangkap

Amplop merah akan dikirim melalui voucher digital, dengan setiap orang mendapatkan 500 yuan.

Sebelumnya, Suzhou di Provinsi Jiangsu, China Timur, juga memiliki kebijakan yang sama yaitu memberi subsidi sebesar 500 yuan per orang untuk mendorong karyawan non-lokal untuk tinggal di kota selama musim liburan.

Selain dengan memberikan iming-iming uang, beberapa daerah hanya mengeluarkan kecaman bagi orang-orang yang bepergian selama liburan imlek tahun ini.

Baca juga: Jenazah Prajurit Korban KKB Diterbangkan dari Timika, Panglima TNI: Pelaku Harus Membayarnya

Contohnya Dong Hong, kepala daerah Dancheng, yang terdengar mengatakan pada sebuah pertemuan bahwa siapa pun yang pulang dari daerah berisiko sedang atau tinggi akan dikarantina dan kemudian ditahan.

Sementara itu, untuk dapat naik kereta, penerbangan, bus, dan melewati pos pemeriksaan jalan raya, para pelancong di China juga harus memegang kode kesehatan hijau di ponsel mereka.

Tetapi pihak berwenang setempat sering memaksakan persyaratan mereka sendiri, mencegah orang kembali atau membuat mereka dikarantina dalam waktu lama bahkan jika kode kesehatan mereka hijau.

Baca juga: Link Live Streaming Laga Persipura Jayapura Vs Arema FC di Liga 1: Malam Ini, Pukul 20.00 WIB

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved