Kamis, 11 Juni 2026

Sejarah

Soekarno, Bung Besar yang Bergaji Kecil Pasca-revolusi

Gajinya cenderung kecil. Ia bahkan acap kali pinjam duit ke ajudannya. Kondisi itu membuatnya dikenal sebagai salah satu kepala negara yang melarat.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
Presiden Soekarno menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan 5 tahun kemerdekaan RI di halaman Istana Merdeka pada 17 Agustus 1950.(Arsip KOMPAS) 

Bung Besar mencoba jadi teladan. Ia ingin berada bersama rakyat. Langkah yang diambilnya cukup besar.

Bung karno tak perna mengharapkan gaji besar selama menjabat sebagai orang nomor satu di Nusantara.

Ia hanya menerima 220 dolar AS per bulan. Jumlah segitu jelas tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan, kurang.

Baca juga: Komunisme: Perjalanan dan Asal Usul Palu Arit Jadi Lambang Kebesaran Partai

Ia pun menyamakan kondisi keuangannya selama jadi presiden tak ubahnya seperti zaman berjuang di Bandung. Dengan kata lain: ia sama-sama dalam kondisi melarat.

Sekali waktu, Bung Karno sendiri sampai meminjam uang dari ajudannya sendiri.

Bung Karno tak malu menuturkannya. Ia juga menyebut dirinya sebagai salah satu presiden melarat di dunia. alih-alih memiliki tabungan berlebih, rumah pun tidak.

“Aku tak memiliki rumah sendiri. Tidak ada tanah. Tidak ada tabungan. Lebih dari sekali aku tidak mempunyai sisa uang untuk pengeluaran rumah tanggaku. Di sebuah negara, Duta Besar kami terpaksa membeli piyama untukku. Satu-satunya piyama presiden sudah sobek. Negara menyediakan tempat tinggal dengan cuma-cuma, bebas pemakaian listrik, empat buah mobil resmi dan tiga di dalam garasi untuk tamu negara dan mereka membelikan pakaian seragamku.”

“Tetapi akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membangun sebuah gedung buatku, tapi di hari berikutnya aku melarangnya. Ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka,” cerita Bung Karno sebagaimana ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Perihal kecilnya gaji yang diterima oleh Bung Karno justru membuat orang di sekitarnya hormat. Ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko salah satunya.

Bung Karno bahkan dianggapnya sebagai seorang panutan. Dalam kesulitan keuangan sekalipun Bung Karno tak pernah absen untuk memikirkan nasib dari bawahannya.

Acap kali Bung Karno sering memberikan uang tambahan dari koceknya pribadi kepada ajudannya untuk ragam tujuan.

Ia menyadari betul bahwa bawahannya pendapatan jauh di bawahnya. Pun sama seperti Bung Karno, mereka hanya mengandalkan gaji bulanan untuk menghidupi anak-istri.  

Baca juga: Operasi Trisula, Langkah Pamungkas Tumpas Sisa-sisa PKI di Blitar Selatan

“Memang benar yang dikatakan Bung Karno, waktu itu kami hanya hidup dari gaji yang diterima setiap bulan. Tetapi kami semua sadar bahwa keadaan ekonomi negara memang sedang sulit dan semua orang juga sama-sama menderita.”

“Lingkungan tempat bekerja, baik atasan atau bawahan juga teman-teman, semua hidup sederhana. Maka tekanan ekonomi yang berat terasa lebih ringan dan dengan sepenuh ketulusan hati kami semua bekerja menjalankan tugas kewajiban kami masing-masing,” Tutup Bambang Widjanarko dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno (1998). (*)

Sumber: Voi.id

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved