Sosok
Menilik Sosok Dokter Seribu Rupiah dari Kacamata Si Bungsu
Semua buah hatinya bangga atas kerja keras, dedikasi, serta kemurahan hati ayahnya dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat
Penulis: Calvin Louis Erari | Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa
Bahkan, sambung Ria, ayahnya kerap berpesan kepada pasiennya untuk rutin meminum obat yang diberikan agar lekas diberi kesembuhan.
“Kami juga biasa dikunjungi sama pasien bapak yang sudah sembuh. Mereka datang ke rumah untuk doakan bapak agar selalu sehat,” terangnya.
Lahir di keluarga sederhana, Ria dan ketiga saudaranya tak pernah merasa kekurangan.
"Apa yang selalu kita minta pasti bapa turuti," ujarnya.
Namun, melihat ketulusan dan kemurahan hati ayahnya melayani masyarakat, serta kasih sayang ibunya, lantas menjadi kebanggaan terbesarnya sebagai anak.
Ria lahir pada 18 Juli 1995, merupakan lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) di Jurusan Kesehatan Ibu dan Anak Universitas Cenderawasih Papua pada 2020 lalu.
Baca juga: Kisah Husnan Perantau Senior Asal Madura: Saya Sudah 10 Gubernur Hidup di Papua
Meski kesehariannya membantu ayahnya melakukan praktek kedokteran, Ria mengaku belum memiliki niat menjadi dokter, mengikuti langkah kaki ayahnya.
Menurutnya menjadi dokter itu rumit. Itulah yang mengurungkan niatnya menjadi seorang dokter.
“Sampai sekarang kita semua (anak Soedanto) tidak ada yang ikut jejak bapak sebagia dokter,” pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/12022022_soedanto-bersama-keluarga.jpg)