Pemekaran Papua
Filep Karma Nilai Otsus Tidak Memberi Manfaat ke Rakyat Papua
Filep menyampaikan hal itu dalam orasinya di hadapan ribuan demonstran penolak DOB dan Otsus Papua di bundaran Abepura, Kota Jayapura, Jumat (1/4).
Penulis: Calvin Louis Erari | Editor: Paul Manahara Tambunan
"Saat itu pihak-pihak ini tidak melihat kami orang Papua sebagai manusia atau sebagai bangsa yang punya hak untuk menentukan nasib sendiri. Seharusnya saat itu ada wakil bangsa Papua yang dilibatkan untuk duduk bersama," kesalnya.
Ia menyayangkan kebijakan tersebut. Sebab Papua masa itu sudah punya parlemen sendiri.
"Parlemen ini adalah salah satu lembaga dari sebuah negara yang akan berdiri sendiri, jadi Papua saat itu sudah punya, dan seharusnya dilibatkan dalam perundingan itu," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, ribuan massa di Kota Jayapura pada Jumat (1/4/2022), mendesak DPR Papua segera membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mengawal aspirasi rakyat soal penolakan pemekaran daerah dan otonomi khusus (Otsus).
Massa lewat koordinator demo mengutuk pejabat Provinsi Papua dan pusat yang mendukung Daerah Otonomi Baru (DOB) di Bumi Cenderawasih.
Baca juga: Ketua DPR Papua Turun ke Jalan Dengar Aspirasi Massa Tolak DOB dan Otsus di Jayapura
Bahkan, massa juga menolak kue bernama Otonomi Khusus (Otsus) yang telah 20 tahun bergulir di Papua.
"Kami rakyat Papua 100 persen tolak daerah otonomi baru," kata perwakilan dari mahasiswa, Notianus Belau saat berorasi di persimpangan Buper Waena, Kota Jayapura pda Jumat (1/4/2022).
"Pejabat yang mendukung pembentukan DOB kami kutuk," sambungnya.
Natianus mengklaim, rakyat Papua dan 116 organisasi telah menandatangani petisi penolakan DOB. (*)
