Senin, 13 April 2026

Nasional

QRIS Go Global, Mulai Buka Layanan Transaksi di Malaysia dan Thailand

Teknologi QR Code ini menjanjikan segudang keunggulan dari efisiensi, kecepatan, hingga kemudahan dalam penggunaannya.

Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA –

Bank Indonesia (BI) saat ini tengah menguji coba penerapan QRIS bersama otoritas sistem pembayaran di Malaysia dan Thailand.

Ini menjadi bukti riil dari BI membawa Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) sebagai alat pembayaran global.

Teknologi QR Code ini menjanjikan segudang keunggulan dari efisiensi, kecepatan, hingga kemudahan dalam penggunaannya.

Demikian, nasabah perbankan maupun fintech payment cukup membawa ponsel pintarnya saat melancong ke luar negeri.

Baca juga: Transaksi Non Tunai Terus Tumbuh, Bank Indonesia Gencarkan GNNT hingga Uji Coba QRIS Antarnegara

Selama terhubung dengan jaringan internet, nasabah tinggal memindai QR merchant.

Dalam hitungan sepersekian detik, transaksi pun sukses.

Bahkan transaksi ini tetap mengandalkan mata uang rupiah di bawah payung currency settlement (LCS).

Skema LCS memungkinkan penyelesaian transaksi bilateral antara dua negara yang dilakukan dalam mata uang masing-masing negara.

Pasalnya, setelmen transaksi dilakukan di dalam yurisdiksi wilayah negara masing-masing.

Baca juga: Minimalisasi Pungli, BNI Buka Layanan Bayar Parkir Pakai QRIS di Kota Jayapura

Kendati demikian, teknologi selalu mengandung ancaman siber dari oknum tak bertanggung jawab.

Bahkan, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mencatat, saat awal pengenalan kartu kredit kedua negara ini paling banyak mencatatkan laporan penyelewengan.

“Mulai dari spam sampai transaksi awal-awal. Bila bekerja sama dengan Malaysia dan Thailand, maka harus benar-benar diperhatikan terkait keamanan transaksi. Jangan sampai menimbulkan hacker dan cyber crime yang bisa merusak tatanan QRIS ini,” ungkapnya.

Pakar keamanan siber sekaligus Kepala Lembaga Riset Siber Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha menyatakan banyak pelaku kejahatan membuat QR Code palsu untuk mengarahkan ke rekening lain dan juga ke website berisi malware.

Baca juga: Transaksi QRIS Terus Meningkat, Bank Indonesia Jajaki Kerja Sama QRIS Antar Negara

Dia mengatakan, pada kejadian di 2014 silam, otoritas China menghentikan pembayaran dompet digital sementara dalam waktu lama.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved