KKB Papua

Pengamat Sebut Gabungnya Pecatan TNI dengan KKB Dapat Timbulkan Bahaya: Bisa Tahu Titik Lemah Aparat

Pengamat intelijen dan terorisme menilai, bergabungnya pecatan TNI dengan KKB Papua bisa menimbulkan pitensi bahaya.

Tribun-Papua.com/Istimewa
Yotam Bugiangge, pecatan TNI yang kini disebut bergabung dengan KKB Papua - Pengamat intelijen dan terorisme menilai, bergabungnya pecatan TNI dengan KKB Papua bisa menimbulkan pitensi bahaya. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta menyoroti bergabungnya pecatan TNI Yotam Bugiangge dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya di Nduga, Papua.

Diketahui Yotam yang merupakan mantan anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 756/Wimane Sili dan Egianus Kogoya disebut polisi ikut menjadi dalang dalam penyerangan KKB yang menewaskan 11 warga di Kampung Nogolait, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga.

Stanislaus menilai, bergabungnya Yotam dengan KKB bisa menimbulkan potensi bahaya.

Baca juga: Polisi Beberkan Awal Mula Terungkapnya Keterlibatan Pecatan TNI dalam Serangan KKB di Nduga

Prada Yotam Bugiangge.
Prada Yotam Bugiangge. (Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih)

"Yang jadi masalah ketika KKB menggalang orang TNI atau Polri, ini bisa berbahya," ungkapnya kepada Kompas.com, Kamis (21/7/2022).

Potensi bahaya yang dimaksud adalah saat ia membocorkan strategi maupun teknik bertempur TNI. Selain itu, anggota KKB juga bisa lebih terlatih.

"Ketika melakukan serangan, ia bisa mengetahui titik lemahnya," tuturnya.

Apalagi, saat Yotam kabur dari kesatuannya pada Desember 2021, dia membawa satu pucuk senapan SS2-V1.

"Sangat berbahaya. Ini bisa digunakan untuk menyerang TNI-Polri," jelasnya.

Baca juga: Mahfud MD Sebut Tak Ada Operasi Militer di Papua dan Hati-hati Tangani KKB: Kita Pakai Aturan Hukum

Di samping itu, Stanislaus memandang ada tactical gap antara aparat keamanan dengan KKB.

"Ini menjadi berat ketika banyak situasi yang menguntungkan KKB. Ada tactical gap namanya. KKB lebih kenal medan, mereka menguasi hutan, geografis. Perlu usaha lebih keras agar aparat keamanan memenangkan tactical gap ini," sebutnya.

Supaya mempersempit ruang gerak Yotam, Stanislaus memandang aparat perlu menguatkan intelijen, sehingga memperoleh data yang akurat.

Tak hanya itu, dia menilai aparat perlu bekerja sama dengan masyarakat sekitar.

"Selain itu, aparat juga perlu lebih melakukan pendekatan ke masyarakat, dialog ke masyarakat. Aparat perlu menggalang masyarakat," terangnya.

Baca juga: Sebut KKB Nduga Didominasi Anak Muda, Danrem 172/PWY: Mereka di Bawah Satu Komando Egianus Kogoya

Apa Penyebab Yotam Berbalik Arah?

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved